bagaimana cara memadukan budaya lokal dengan industri kreatif

Salahsatu yang dapat mendukung majunya perekonomian di Kota Balikpapan yakni dengan adanya para pelaku industri kreatif, salah satunya keberadaan Wedding Bertepatan dengan Pemilu Pada Februri 2024, Jabatan Komisioner KPU Kaltim Berakhir Jul 27, 2022 @ 20:03. IniPERISTIWA. iniTrend; iniKALTIM. iniSAMARINDA; iniPENAJAM; b Alat Pendukung Jenis dan fungsi peralatan untuk pembuatan karya kerajinan dari limbah kulit jagung adalah gunting. c. Keselamatan Kerja Keselamatan kerja merupakan sikap pada saat kita bekerja. Hal ini berhubungan dengan cara memperlakukan alat dan bahan kerja, serta bagaimana mengatur alat dan benda kerja yang baik dan aman. Balimemiliki banyak talenta-talenta yang luar biasa dalam industri kreatif dan digital, maka kami menggali bagaimana cara mendorong tumbuhnya industri kreatif dan digital ini. Keunikan budaya Bali dipadukan dengan teknologi digital untuk mendorong satu wahana baru untuk penciptaan ekonomi dan perkembangan budaya yang mengakomodasi perkembangan PerananMedia dalam Menghadapi Globalisasi di Masa Depan: Tantangan terhadap Pemerintah, Budaya, dan Masyarakat Perkembangan teknologi secara global telah mengubah wajah media-media konvensional seperti koran, majalah, radio, dan televisi, terutama setelah munculnya Internet. kreatifdalam penanggulangan kemiskinan di Pasuruan, oleh Bagus udiansyah, dkk pada jurnal Sosial Humaniora 2016. No 4 vol.19. Hasil penelitian bahwa pemberdayaan masyarakat dengan mengoptimalkan SDM lokal dengan strategi 5P : pemungkinan, penguatan, perlindungan, penyokongan, dan pemeliharaan. Peran cendekiawan: pendorong penciptaan SDM Site De Rencontre A Tahiti Gratuit. Pandemi COVID-19 membawa pencerahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bagaimana tidak, dunia seakan dipaksa berhenti sejenak dari segala kesibukannya, dan memberi manusia waktu lebih untuk memikirkan sustainibility dalam hal apapun yang mereka kerjakan, tak terkecuali dalam hal industri webinar web seminar bertajuk 'Cheat the Covid' part 5, yang diadakan oleh Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya FIK Ubaya mengajak para penikmat dan pelaku usaha kreatif agar mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan dampak kepada FIK Ubaya, Viviany, menuturkan bahwa industri fashion dinilai belum sustainable. Dimana pada abad 18 industri tekstil seringkali mengeksploitasi anak-anak sebagai pekerja karena berbagai hal, salah satunya karena biayanya murah. Bahkan pada abad 20, fashion terus berkembang dan dikenal dengan istilah mass manufacturing atau fast fashion. “Disebut fast fashion karena konsumsi masyarakat tinggi sekali,” ucap Viviany 12/6. Menurut Viviany, era fashion tersebut menyembunyikan banyak kisah kelam. Salah satunya adalah penyiksaan hewan untuk diambil bulunya dan digunakan sebagai bahan dasar baju. Pasalnya banyak desainer dan aktivis yang mulai sadar bahwa fashion yang sustainable sangat penting. Saat pandemi COVID-19 seperti sekarang, terhitung puluhan juta pekerja tekstil kehilangan pekerjaannya. Viviany berargumen bahwa ada konsep industri fashion yang lebih baik, yakni konsep kolaborasi. Kolaborasi ini mengusung dua poin utama, yakni lokalisasi dan orientasi pada tukang, pekerja atau seniman artisan. “Sementara penghargaaan yang tinggi pada tukang, pekerja atau seniman akan menciptakan lokal-lokal supplier baru, yang nantinya bisa mendukung munculnya supply chain lokal. Sedangkan, lokalisasi diharapkan meningkatkan local job. Hal tersebut banyak membuka peluang pada orang-orang lokal untuk berkarya dan berpenghasilan melalui seni,” jelasnya. Senada dengan Viviany, Audit Yulardi, menuturkan, kearifan lokal bisa menjadi inspirasi baru bagi desainer-desainer dalam menyusun produk modern yang mampu bersaing dan menyelesaikan masalah. Karena setiap produk atau proses pembuatannya mengandung nilai, makna, filosofi, dan banyak hal lain. Selain itu, kearifan lokal berbicara soal hidup dan kebiasaan dalam masyarakat yang berkembang secara terus menerus.“Yang ada dalam keseharian kita, tanpa kita sadari adalah kearifan lokal. Hal ini terlihat dari cara sebagian daerah menghadapi COVID-19. Di Sulawesi ada ramuan daun sirih dan campuran daun lain untuk disinfektan. Ini adalah contoh penerapan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat lokal digunakan untuk menghadapi masalah terkini,” ucap dosen FIK ini. Audit menjelaskan jika budaya Jawa, Sunda, mengenal Padasan atau Gentong dari tanah liat yang berisi air dan ditaruh di depan rumah. Hal ini dimaknai sebagai semangat untuk menjaga kebersihan. Kearifan lokal ini menyimpan pesan yang sebaiknya dipelajari dan disesuaikan ke masyarakat jaman sekarang.“Permasalahannya mungkin ajaran-ajaran tersebut tidak kita maknai sebagai hal yang logis, lebih ke mitos, sehingga keindahan maknanya menjadi tersamarkan. Lalu pertanyaannya, bagaimana cara sebagai seorang desainer untuk menerjemahkan hal tersebut? Salah satunya dengan memahami pesan-pesan yang disampaikan oleh kearifan lokal. Memahami spirit masa lalu dan disesuaikan dengan lifestyle jaman sekarang,” mengingatkan, jika penerapan nilai Padasan atau Gentong sebagai alat membersihkan diri dari luar ini bisa menjadi sesuatu yang modern."Hal ini penting sebab kearifan lokal akan membawa pencerahan kepada desainer tentang nilai sehingga produk baru yang diciptakan bermanfaat dalam kehidupan masyarakat. Karena warisan itu tersebar dalam keseharian kita,” tutupnya. ArticlePDF Available AbstractPemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Industri Kreatif. Seni pertunjukan, termasuk tradisi lisan yang ada di dalam pertunjukan menjadi salah satu prioritas yang akan dikembangkan agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat pendukungnya. Tujuan tersebut representatif karena masyarakat Indonesia memiliki beragam seni pertunjukan dan sastra lokal yang apabila dikelola dengan baik bisa menjadi penopang munculnya ekonomi kreatif. Banyuwangi, misalnya, memiliki beragam seni pertunjukan dan tradisi lisan, seperti syair­ syair gandrung, lagu­lagu dalam pertunjukan angklung, cerita rakyat jinggoan, dan tradisi wangsalan dan basanan. Sampai saat ini, dinas terkait di Banyuwangi belum dapat membuat kebijakan yang mampu mendukung terciptanya pola pikir, sistem, dan praktik industri kreatif berbasis lokalitas dan tetap mengedepankan karakteristik nilai­nilai kultural yang ada. Untuk itu, tulisan ini bertujuan mengembangkan model industri kreatif berbasis sastra lokal dan budaya Using. Dengan metode etnografis dan analisis yang menggunakan pendekatan cultural studies, model tersebut diharapkan mampu mengembangkan industri kreatif di wilayah lokal. Abstract The Indonesian government announced the year of 2009 as the Creative Industry Year. Performing art, including oral tradition existing in performance, has become a priority which will be developed to improve the prosperity of its supporting community. This goal is representative because Indonesian people have various performing arts and local literature which, if well managed, will support the creative economy. Banyuwangi, for instance, has various performing arts and oral tradition, such as gandrung poems, songs in angklung performance, jinggoan folklores, and traditions of wangsalan and basanan. To date, the relevant services of Banyuwangi government have not been able to make policies able to support the creation of creative industry pattern of thinking, system, and practice which are locally based and keep on proposing the characteristics of existing cultural values. Therefore, this article is aimed at developing a creative industry model based on Using local literature and culture. By using ethnography method and cultural studies approach, the model is expected to be able to develop the creative industry in the local area. Key Words local literature; Using culture; creative industry; revitalization Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. SASTRALOKALDANINDUSTRIKREATIFREVITALISASISASTRADANBUDAYAUSING1LocalLiteratureandCreativeIndustryRevitalizationofUsingLiteratureandCultureNoviAnoegrajektiJurusanSastraIndonesia,FakultasSastra,UniversitasJemberJalanKalimantan37Jember,Pos‐el regional, khususnya Banyu‐wangitidakhanyaterjadipadamasape‐merintahan sekarang. Sejak 2000—2005, bupati Samsul Hadimendeklarasikan JenggiratTangiseba‐gaisebuahgerakankebudayaanpenegu‐han identitas Using sebagai masyarakatlokal. Bupati Ratna Ani Lestari 2005—2010 dengan gerakan HijoRoyoroyo,dan bupati Abdullah  2010—sekarang183 ATAVISME,Vol. sember201dengan TheSunRiseofJava.Ketigage‐rakan tersebut memperlihatkan bagai‐mana pimpinan daerah mengekspresi‐kan daya dalam ta aran16,No.2,EdisiDe 3183—1 18493 segera berubah menjadi sesuatuyangeksotisbagiorang bu t po‐litis.Kebijakan JenggiratTangi diputus‐kanmelaluiSKbernomor173tertanggal31 Desember 2002 yang menetapkan“bahwa dalam rangka mendorong tum‐buhnya semangat ikut serta memilikidaerah dengan segala kebudayaannya,yang pada gilirannya akan mampu me‐ningkatkan pembangunan di bidang ke‐pariwisataan, maka perlu adanya upayameningkatkanpromosipariwisatadiKa‐bupatenBanyuwangi.Tampak dari kon‐sideran,dua arti pentingproyekpeman‐faatan gandrung sebagai maskot. Pertama, gandrung dianggap sebagai wakilataurepresentasibudayadaerahBanyu‐wangi.Kedua, gandrung dipakai sebagaikomoditiuntukmenarikpariwisata.Posisi gandrung sebagai tanda dae‐rah Banyuwangi tersebut mengalahkantanda yang sudah berumur puluhan ta‐hun, yakni patung ular berkepala gatot‐kacayangterpajangdibanyaktempatdikota Banyuwangi termasuk di depankantor kabupaten dan pendopo tempatbupati berdomisili. Tanda ini juga telahtersosialisasi ke dalam kehidupan ma‐syarakatdanmenjadiaksesoridiataspi‐gura gong gandrung Anoegrajekti,200775.Keseniangandrung  yangbagiorang Banyuwangi merupakan bagiandarikehidupansehari‐haridan ciri khasmereka,ketikamenjadi promosi pariwi‐sata, 2Proyek pemanfaatan gandrung se‐bagai maskot pariwisata Banyuwangiadalah bagian dari proyek JenggiratTangi, sebuah proyek politik yang di‐maksudkan untuk mendorong kebang‐kitandaerahdanmasyarakatnya.Selainpemaskotan gandrung, proyek ini jugamencanangkan beberapa kegiatan yanglain, seperti sehari berbahasa Usingsetiaptanggal18Desembersetiaptahunbersamaandenganhari ulang tahunBa‐nyuwangi, sepekan berbusana Using18—25Desember,danpenerbitanma‐jalah berbahasa Using. Khusus untukyangpertamadankeduahanyaberlakubagi setiap pegawai negeri maupunswastadiseluruhBanyuwangi.ProyekpolitikJenggiratTangi,yangdideklarasi‐kan pada 18 Desember 2002 ini, cukupsemarak terutama dengan pajangan‐pa‐jangan billboardbesar kecil bertuliskanJenggiratTangidibanyaktempatstra‐ dari proses elit semata, me‐lainkan juga bagaimana identitas Usingjikadikaitkandenganresponmasyara‐katdalamrealitaskekinianyangmenun‐jukkankemajemukan.Penegasanidenti‐tasUsingdanberbagaiupayakonservasigandrungberaturanbaku,baikmelaluiregulasimaupunsosialisasitersebut, se‐laindianggap kontroversi olehkalanganpolitisi, juga berlawanan dengan kenya‐taan bahwa pertunjukan gandrung bu‐kansajatidakmempertimbangkantra‐disid Uanidentitas singtetapitelahmen‐jadipasar,terbuka,dan gandrung saat ini me‐nunjukkan bahwa kesenian ini telahmengalami perkembangan yang sangatjauhseiringdengandinamikakomunitasUsingitu sendiri.Pertunjukan gandrungseperti halnya kesenian tradisi lain, bu‐kan saja menjadi profan dan murni hi‐buran melainkan juga berinteraksi dansaling memengaruhi dengan kesenian‐kese nianlaintermasukdengankesenianpopulersepertidangdut.SelainkesenianGandrung,masyara‐katUsingdiBanyuwangi memiliki bera‐gamsenipertunjukandantradisilisanyang sampai saat ini masih eksis, misallagu‐lagu dalam pertunjukan angklung,ceritarakyatdalamjinggoan,dantradisiwangsalandanbasanan.Sastralokalda‐lam seni pertunjukan tersebut RevitalisasiSastradanBudsebenarnya bisa menjadi penopang pe‐ngembanganindustrikreatif.Sampaisa‐atini,dinasterkaitdiBanyuwangibelumbisamembuatkebijakanyangbisamen‐dukungterciptanyapolapikir,sistem,dan praktik industri kreatif berbasis lo‐kalitasdantetapmengedepankankarak‐terisailagudansinema og afi,ke ajinan,dandesain.Tomic‐Koludrovic & Petric 2005menjelaskan bahwa era kontemporermenunjukkan kecenderungan lahirnyabeberapaistilahterkaitkreativitas,yakni“kota kreatif”, “kelompok kreatif”, “eko‐nomi kreatif”, “kelas kreatif”, “pekerjapengetahuan”,maupun “kelasberpengetahuan”yang semua itu lebihsesuaidibicarakandalamduatermauta‐ma industrikreatifdanekonomikreatif.Artinya, berdasarkan pengalaman nega‐ra‐negaraEropaTenggara,industrikrea‐tifyangbisamengembangkandanmem‐berdayakan kreativitas individual mau‐pun kelompok masyarakat, pada dasar‐nya,bisamendorongdan mengembang‐kanekonomi kreatif;sebuah sistemdanprakya...NoviAnoegrajekti185tik nilai‐nilai kultural yang adaAnoegrajekti,2010.Tulisan ini bertujuan untuk menje‐laskanbagaimanaindustrikreatifberba‐sissastralokaldanbudayaUsingdikem‐bangkan.Denganmetodeetnografisdananalisis culturalstudies, model tersebutdiharapkanmampumengembangkanin‐dustrikreatifdiwilayahlokal.TEORIIndustri kreatif merupakan salah satukonsep yang paling banyak diperbin‐cangkandi kalangan akademisimaupunpembuat kebijakan akhir‐akhir ini. Ke‐tika peningkatan industri dan ekonomiberbasis sumberdaya alam semakinmendapattantangan karena keterbatas‐an bahan, industri kreatif berbasis pe‐ngetahuan dan talenta kreatif menjadipilih aan paling masuk kal untuk meng‐gerakkanekonomi.Konsep industri budaya merujukkepadaindusriyangmengkombinasikankreasi,produksi,dankomersialisasikon‐ten‐konten kreatif yang bersifat intangibledan kultural. Konten‐konten terse‐but secara tipikal dilindungi oleh copyrightdanbisaberbentukindustribarangmaupun jasa. Industri budaya secaraumumberbentukpercetakan,penerbit‐andanmultimedia,audio‐visual,pro‐duks t r rtik ekonomi yang lebih mendasar‐kankepadakreativitasdanpengetahuan.Industribudayamemanglebihdi‐gerakkan oleh para pemodal/perusaha‐an besar yang mencari keuntungan me‐laluisistemindustribudayadengancaramemproduksi dan mendistribusikanproduk budaya secara nasional ataubahkaninternasionalyangdidalamnyaterdapat keseluruhan organisasi yangterlibat dalam proses penyaringan pro‐duk‐produkdanide‐idebaruyangber‐asal dari personel kreatif yang beradadalam level subsistem Granham dalamSariono,etal, 2009. Sementara,konsepindustri kreatif menekankan pada ting‐katanyanglebihluasdariaktivitasyangtermasukdidalamnyaindustribudayadan semua produksi kultural atau artis‐tik, baik yang bersifat liveseperti senipertunjukan maupun yang diproduksiolehunit‐unitindividual.Maka,industrikreatif secara umum mencakup penye‐diaanprodukataujasayangjugamemu‐atelemen‐elemensubstansialdariusahakreatifdanartistik.METODESebagaipersoalankebudayaan,sastralo‐kaldanindustri kreatif dalam kaitannyadengan revitalisasi sastra dan budayaUsing dikaji secara etnografis denganmemusatkan perhatian pada sistem pe‐ngetahuan yang dimiliki subjek dan ba‐gaimana pengetahuan itu diorganisasi‐kan untuk menentukan tindakan. Selainitu, metode etnografi digunakan untukmenemukan bagaimana masyarakat ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20mengorganisasikanbudaya dalam pikir‐anmerekadankemudianmenggunakanbudaya tersebut dalam kehidupannya.Pendekatanini lebih bersifatholistik‐in‐tegratifdalamrangkamendapatkannative’spointofview.Data primer maupunsekunderakandikumpulkandenganwa‐wancara mendalam indepthinterview,pengamatan terlibat participantobservationdanpelacakan dokumen tertulis.Spradley 1997118; Barker, 200027menyebut analisis etnografi sebagai pe‐meriksaan ulang terhadap catatan la‐panganuntukmencarisimbol‐simbolbudaya yang biasanya dinyatakan de‐nganbahasaaslisertamencarihubung‐an antarsimbol. Metode interpretasi di‐pergunakan untuk mengakses lebih da‐lam terhadap berbagai domain yang di‐alamiahkan dan aktivitas karakteristikpelakuyangditelitiSebuahanalisisetno‐grafis, seperti yang dikatakan Spradleyberangkatdarikeyakinanbahwase‐orang informan telah memahami se‐rangkaian kategori kebudayaannya,mempelajari relasi‐relasinya, dan me‐nyad m h ng13183—1 18693merepresentasikan Using, bahkanBanyuwangi.Identitas kultural selalu dikaitkandenganhibriditasdandiaspora.MenurutHall 1997; Melani, 200538 identitasbukanlah esensi, melainkan sejumlahatribut identifikasi yang memperlihat‐kan bagaimana kita diposisikan danmemposisikan diri dalam masyarakat,karenaaspekbudayadankesejarahanmerupakan keniscayaan. Hall menekan‐kan bahwa identitas sebagai suatu pro‐duksi yang tidak pernah tuntas, selaludalamprosesdanselaludibangundalamrepresentasi.Identitastidak bersifatsta‐tis, selalu dikonstruksikan dalam ruangdan aktu, serta bersifat kompleks danmajemuk.ari atau engetahui ubu an de‐ngankeseluruhannya.Identitas menurut Hall 1993menghubungkan representasi denganpolitik.  Politiklah yang membuat kartupos pemandangan dan penari Bali bisadianggapmerepresentasikanBali.Halinidapat diidentikkan bahwa politik kebu‐dayaanyangdapatmembuatsastralokaldalamsenipertunjukanBanyuwangida‐patwHASILDANEMBA ASANSiapaOrangUsing?Masyarakat Using adalah pendudukawal Banyuwangi dengan klaim sebagaietniktertentuyangditandaiduahal.Per‐tama, mengalami sejarah penindasandan penaklukan yang panjang oleh ke‐kuatan‐kekuatan politik Majapahit, De‐mak,Buleleng,danBelanda,bahkanJa‐wakontemporermemarginalisaside‐ngan stereotipe dan stigma. Oleh sebabitu,populerdikalanganelitemerekase‐buah ungkapan resistensi ”bukan Jawadan bukan pula Bali” dari segi bahasamaupun adat‐istiadat. Kedua, dalam se‐jarahnya yang panjang pula, mereka te‐lah mengalami kehidupan bercampurdengan etnis‐etnis lain yang berdatang‐andariberbagaidaerahdiJawa,Madura,Bali,danSulawesiSelatanbaikbersama‐an dengan pembukaan perkebunan Be‐landadiawalabadke‐20maupundima‐sasesudahnya. Dalam konteks kehidup‐anekonomidanpolitik,komunitasyangsebagianbesarbermatapencaharianpe‐tani ini tampak menempati posisi pojokyangP Haksesnyaterhadapsumber‐sumberekonomidankekuasaanrelatiflemah.Mayoritas mereka beragama Islamsinkretikdan hanyasebagiancenderungmenjadi Islam ortodok‐puritan, tetapijustruyangterakhiritulahyangmem‐perlihatkan otoritas lebih kuat. Sepertihalnyakesenian‐keseniantradisiditem‐pat lain, gandrung merupakan kesenianyang didukung dan dimiliki oleh danmenjadi bagian penting dari hidup dankehidupan komunitas Using Banyu‐wangi.Sebuah komunitasetnik yangdi‐kenal sebagai penduduk paling awaldaerah itu dan sekarang menyebar di RevitalisasiSastradanBudbeberapakecamatanbercampurdengankomunitas lain seperti Jawa, Madura,Bali, angaya... CirikhaskarakteristikbudayaUsingyang menonjol adalah sinkretis, yaknidapat menerima dan menyerap budayamasyarakat lain untuk diproduksi kem‐balimenjadibudayaUsingSingodimayan,1999.Selainitu,budayaUsingjuga akomodatif terhadapkekuat‐ansupranatural,gaib,danmagis.Haliniterlihat dalam sinkretisme agama Islamdengankepercayaananimisme‐dinamis‐me yang terakumulasi dalam keyakinanterhadapdhanyang, seperti dalam ritualSeblang, Barong, dan Kebo‐keboan. Se‐dangkansinkretisme dalam dimensi ke‐senian tampak dalam seni Hadrah Kun‐tulan yang memadukan seni Islami de‐ngan anggapan tabu penari perempuanSaputra,201130.NoviAnoegrajekti187dan etnik pendatang lain yjumlahnyasangatkecil.Masyarakat Using mempunyai pe‐ngalaman sejarah yang berbeda dengankomunitas‐komunitas lain di Banyuwa‐ngiterutamaberkaitandengankekuatanpolitikkerajaandimasalalusepertiDe‐mak,Mataram,danBuleleng.Merekase‐lalu menjadi objek penaklukan baik un‐tukkepentinganperluasan wilayah, mo‐bilisasikekuatanmassa,kekuataneko‐nomi, maupun pengaruh kultural yangsemua itu diperlukan oleh kerajaan‐ke‐rajaanbesartersebut.Sebuahpengalam‐an sejarah yang membentuk sistem bu‐daya Using yang kini mengakar dan di‐artikulasi dalam kehidupan sehari‐haribaik dalam kehidupan kolektif sesamamerekamaupun dalam interaksinya de‐ngankomunitaslain. Sebagai komunitasyangtidakekslusif,masyarakatUsingberinteraksi secara intensif dengan ko‐munitas‐komunitas lain di Banyuwangibaik dalam kehidupan sosial politik,ekonomi,maupunbudaya.Suatupe‐ngalaman interaksi yang memengaruhisistemnilai dan tatananhidup yangadaataubahkanmelahirkanyangbaru.Dalam hal kepribadian, karakteris‐tikorangUsingberbedadariorangJawa.Menurut Singodimayan kepribadianorangUsingtidakbersifathalus atau to‐leransepertiorangJawa,melainkanber‐sifataclak,ladak,danbingkak.Aclakber‐artisokinginmemudahkanoranglain,atau sikap yang memosisikan diri seba‐gai sok tahu. Ladaksikapyangmenun‐jukkan kesombongan dengan cara ber‐canda. Sedangkan bingkakberartiacuhtak acuh dan kurang peduli. Karakteris‐tik ini pun berlanjut pada penggunaanbahasapergaulanyangseringmenggu‐nakankata‐kata ABCasu, babi, celeng.Penggunaankatatersebutbukansebagaikemarahan melainkan sebagai relasipersahabatan.SyairdalamPertunjukanGandrungdanAngklungRepresentasiIdentitasUsingAntusiasme birokrasi dan seniman‐bu‐dayawan Dewan Kesenian Blambanganyangmeningkatsejaktahun 2000 mem‐buatpertarunganberbagaikekuatanter‐hadapgandrungsemakinseru.Gan‐drung, dalam pandangan kelompok inimerupakan kesenian yang mengandungnilai‐nilaihistoriskomunitas Using yangterus‐menerusadadalamposisitertekansecarastrukturalmaupunkultural.Seni‐man dan budayawan Dewan KesenianBlambangan memperlihatkan penegas‐annyabahwagandrungadalahrepresen‐tasiidentitasUsingyangtertekandanmelawan. “Pertunjukan gandrung tidaklainadalahgambaranperlawanankebu‐dayaansebuahmasyarakatUsing.Per‐lawanan terhadap berbagai ancaman,baikyangbersifatfisikmaupunpencitra‐annegatif yangberulang kaliterjadi da‐lam kesejarahan masyarakat Using.”Singodimayan,etal,2003.Merekaper‐cayadanselalumengkampanyekanbah‐wapertunjukangandrungsebelumkese‐nianitumemasukimasavakumditahun1966 sering disebut merupakan ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember20ungkapansejarahpenindasandanperla‐wanan komunitas Using. Bahkan untukmelestarikangandrungsepertiitumere‐ka memproduksi berbagai regulasi danupaya‐upayasosialisasisepertipelatihanpenarigandrungsecarareguler,danfor‐malisasi tradisi merasgandrung. Secaraeksplisit,berbagaiupayakonservasi tra‐disi itu mereka ungkapan untuk “me‐nam13183—1 18893dicatatdandidokumentasidalamingatandanhafalangenerasiberikutnya.Selainsyairtradisiyangpakem,sya‐ir kontemporer Using banyak ditemuidalamseni KendangKempulantaralain“UlanAndhung‐andhung”,“KembangPe‐thetan”, “Gelang Alit”, “Kantru‐kantru”,“CemengManggis”, “LancingTanggung”,dan “Lali‐lalian.” Sedangkan syair‐syairklasikUsingbanyakdimanfaatkandalamgending‐gending ritual dan juga diman‐faatkansebagaipropagandasimbolikda‐lam gerakan perjuangan melawan kolo‐nial, seperti “Padha Nonton”, “SeblangLukipilkan identitas Using” di tengahpertarunganyangsemakinglobal.Sejumlah seniman‐budayawan baikdi Dewan Kesenian Blambangan mau‐pun masyarakat memandang bahwa la‐gu“PadaNonton”mengandungpesan‐pesan perjuangan rakyat Blambangan.FatrahAbal menerangkan bahwadalamtampilanyang paling ekplisit lagu terse‐but adalah irama vokal untuk memberipenghormatan kepada tamu, tetapi jugasecara simbolis mengandung maknaperjuangan. Tim dari Yayasan Kebuda‐yaan Banyuwangi5 berpendapat bahwa“Pada Nonton” adalah sebuah sindiranterhadap pembuatan jalan tembus keBanyuwangi menyambung jalanDeandels yang berujung di Panarukan,atau peristiwa pembuatan terowongankereta api Merawan yang mengakibat‐kanr lambanganakyatB harusmenerimakerjapaksa.Bahkan ada juga yang menafsirkantentang para pembesar yang mengham‐burkan hawa nafsunya dengan para pe‐rempuan Blambangan. Oleh karena itu,menurutFatrahAbal,“PadaNonton”bu‐kansaja dipandangsebagai sebuahlaguyang dinikmati tetapi juga merupakansejarahperjalananmasalaluorangUsingyang nta”,“SekarJenang”,dan“KembangPepe.”Gandrungtampaknyamemangsulitmelepaskan dari perhatian pihak luar.Beberapakekuatanyangbertumpupadadukungan massa seperti partai politikselalu merengkuhnya. Pada dasawarsa50‐an ketika pertarungan antarpartaipolitik sangat ramai dan meluas, gan‐drung diperebutkan terutama oleh Par‐taiKomunis Indonesia PKI melalui or‐gannya, Lembaga Kebudayaan RakyatLekradanLembaga Kebudayaan Nasi‐onalLKNmilikPartaiNasionalIndone‐siaPNI. Gandrung,seperti halnyaang‐klung,dimanfaatkanolehLekramaupunLKN untuk memobilisasi massa pendu‐kungnya masing‐masing secara terusmenerus, tidak hanya ketika partai‐par‐taiitumemerlukandukunganpraktisse‐pertiPemilusebagaimana kecenderung‐anpartaipolitiksekarang.CengkeramanLekra terhadap gandrung mengharus‐kankesenianini untukselalumelantun‐kansecararutinlagu‐laguyangdiklaimsebagai“cirikhas”nyasepertilagu“Gen‐jer‐genjer”.Justru karena itulah, gandrung di‐identifikasidengan Lekrayang komunisdansejakperistiwa1965terkenalarang‐an pentas, bahkan lagu‐lagu yang biasadidendangkannya tidak boleh dikuman‐dangkan,dantariannyapunmenjaditer‐larang.Hampirtujuhtahunsejakperisti‐watersebutpentasgandrungtidakterli‐hat di Banyuwangi. Para seniman gan‐drungyangdikategori komunisdibunuhatau menjadi tahanan politik dan mere‐kayangbukankomunistidakberanime‐mentaskannya. Seluruh warga masyara‐katBanyuwangiketakutanuntukme‐mentaskan kesenian ini karena cap ko‐munis. RevitalisasiSastradanBudGandrungmunculkembalipadada‐sawarsa tahun ’70‐an, bersamaan de‐ngandimulainyaproyekRevitalisasi Ke‐budayaanDaeraholehDepartemenPen‐didikandanKebudayaan,sebuahproyekyangdirancangdandikerjakansecarasistematis dalam bentuk penelitian,penggalian, inventarisasi, dokumentasi,pembinaan,pelatihan,dansertifikasiter‐hadapsetiapkeseniandaerahdalamke‐rangaya... etnik melalui ek si k ian se‐pertigandrungFatrah Abal dan HasnanSingodimayan keduanya budayawanBanyuwangi menceritakan bahwaDjoko Supaat Slamet memberikan pelu‐angbagiseniman‐senimanLekraBanyu‐wangi seperti Andang CY budayawandanpencipta lagu, SlametMenur,  danEndroWilisyangmasihhidupdanmen‐dorongmerekauntuktetapberkaryadengancatatantidakmenyebarkanpa‐ham komunisme. Baik Andang, Slametkoreografer, Endro Wilis pencipta la‐gumaupunBasyirpenciptalagusam‐paikinimasihberkaryasenidandiakuiolehpublikdiBanyuwangitanpa diskri‐minasi. Bahkan Slamet pada akhir 2004berhasil mereproduksi lagu‐lagu yangpada60‐an diklaim sebagaikarya Lekradan sajak tahun 1965 tidak dikuman‐dangkansepertiAngklungSorenCepMenengo,Rantag,Emasemas,Sekolah,danPadhaNginangciptaanMoch.AriefdanEndrNoviAnoegrajekti189kapemantapanintegrasidansta‐bilisasipolitik dan Samsul Hadi 2000—2005,berperansangatpenting dalam menghi‐dupkankembaligandrung dan kesenianUsinglainyangtampakmulairedupolehberbagaifaktor, antara lain desakan do‐minasi budaya tertentu dan modernitastermasuk budaya pop yang merambahBanyuwangi.TerutamaSamsulHadi,bu‐pati 2000—2005, menjadi agen palingpentingdalammerepresentasikanUsingditengah‐tengah pergaulan kebudayaandan spre esen.o Wilis, keduanya seniman ang‐klungkelompokLekra.Selainpertunjukangandrung,syair‐syair Banyuwangi juga berkembang le‐wat kesenian angklung sejak tahun1940‐an. Melalui grup Angklung SriMudadangrupangklungyanglain,tem‐bang‐tembang Banyuwangenmulai po‐puler.Kemunculangrupmusikangklungmulaimarakdan hampir terdapatdise‐luruh desa di Banyuwangi. MenurutAndangCY,“DuluSriMudaitusangatdi‐gemarimasyarakat.Hampirdisetiapde‐saada.Nah,darisitulagu‐laguditampil‐kanmelaluisenisuaradansenitari.”Peristiwatahun1965dankebijakanpolitikOrdeBaruterhadapkesenianrak‐yat rupanya berimplikasi sangat luas dikalangan masyarakat hingga di lapisanpalingbawah.FatrahAbal,Hasan Basri,dan Hasnan Singodimayan melukiskanbahwasejakperistiwa yang menggeger‐kanituseluruhmasyarakatBanyuwangitidak mau mementaskan gandrung danmendendangkan lagu‐lagu Banyuwangen dengan berbagai alasan. Di antaraalasan tersebut adalah ketakutan danmenganggap bahwa kesenian maupunlagu‐lagu itu adalah komunis, meskipunsebelumnyamerekamenjadipenggemardanpenontonsetianya.Itulahsebabnyamengapa Fatrah Abal bersikukuh mere‐kam lagu‐lagu ciptaannya dengan iring‐anorkesmelayudanmeragukanimbau‐an Supaat untuk mempergunakan ang‐klungsebagaipengiringnya.Dorongan dan kebijakan politik lo‐kal Djoko Supaat Slamet membangkit‐kankesenian Banyuwangenmemangsa‐ngat penting dalam sejarah gandrunghingga digemari kembali oleh masyara‐kat Banyuwangen, tetapi beberapa ke‐cenderungan sosial dan politik baru didaerah itu juga ikut menentukan peru‐bahan tersebut. Dari kasus‐kasus mikroterlihat, seperti dituturkan Hasan Basri,seorang Guru SMPN 1 Banyuwangi, ATAVISME,Vol.16,N ,EdisiDe ber201bahwa rekaman lagu‐lagu kendangkempulo.2 sem 3183—1 19093LagudalamSeniPertunjukandanIndustriKreatifRevitalisasiHibridPotts & Cunningham 2008 menawar‐kanempatmodelterkaitsistemdanme‐kanismeindustrikreatif.Pertama,modelkesejahteraanmerupakanjejaringpeng‐gerak pada sektor ekonomi, meskipunmembutuhkanbiayabesar,yangmampumemberikankontribusi menyeluruh ba‐gipeningkatankesejahteraansecarapo‐sitif. Dengan model ini, industri kreatifmelibatkan proses produksi komoditasdengan nilai kultural tinggi, namunmenghasilkannilaipasarrendahataubi‐sa kurang menguntungkan. Untuk bisamemastikankesejahteraandalamkondi‐si demikian, dibutuhkan kebijakan ne‐garayangdipusatkankepadapengaloka‐sian kembali pendapatan dan sumberdayaataupengendalianhargaagarbisamelindungi aset kultural berharga. Ke‐dua,modelkompetisi mengabaikannilaikulturaldariprodukyangdihasilkanin‐dustrikreatifkarenamerekapadadasar‐nya hanya “industri” yang membutuh‐kan kompetisi dan pasarlah yang me‐nentukan baik‐buruknya. Segala keun‐tunganyangbisameningkatkankesejah‐teraan para kreator atau seniman/watidiperoleh dari kompetisi pasar. Ketiga,model pertumbuhan mengidealisasi re‐lasiekonomipositifantarapertumbuhansektorindustrikreatifdansektorekono‐misecara umum.Artinya, industrikrea‐tif mampu memperkenalkan ide‐ide ba‐ruyang bisa mempengaruhisektor‐sek‐torlainatauindustrikreatifbisamemfa‐silitasiprosesadopsidanpenguatanideatausertateknologibarudisektorlain.Keempat,modelinovasimengasumsikanindustrikreatifmampumemunculkandanmengkoordinasikanperubahaneko‐nomiberbasis pengetahuan. Signifikansiindustri kreatif bukanlah pada kontri‐busirelatifterhadapnilaiekonomi,teta‐pikontribusimerekabagikoordinasiideatauteknologibaru,sehinggaikutpulamempengaruhiprosesperubahan.Keha‐diran rnet, misalnya, mdi Genteng yang memadukanirama gandrung dan kasidah,menonjolkan lirik‐lirik bahasa agamaIslam, dan mempergunakan bahasaUsing membuat orang Banyuwangibersedia menerima kembali lagu‐laguBanyuwangi.Hal itu diperkuat oleh Golkarisasiyangsaatitumerasuksampaipedesaan.GolkarisasidiBanyuwangidanmungkinjugadidaerahlain,sangatmemengaruhiorang Banyuwangi dalam mempertim‐bangkan banyak hal dari sudut agamaataudengankatalainmengurangikon‐sentrasi berpikir tentang purifikasi danortodoksiagama Islam. “Golkarisasidisini berarti sekularisasi dan memenga‐ruhi semua aspek keberagamaan orangBanyuwangi,”jelas HasanBasri. Dengandemikian,jikawaktuituorangBanyu‐wangimenolak lagu‐lagu Using yangdi‐klaim sebagai komunis hanya karenabertentangandengan agama, makaketi‐ka konsentrasi tentang purifikasi pudar,orang Banyuwangi menerima kembalilagu‐ Using dan tidak memperten‐tang adenganagama.lagukanny inte enghadirkanbanyakperubahanmodel Banyuwangen kontemporertahun 2000‐an mengkaji strategi paramusisi Banyuwangi dalam mengemaskekayaan lagu daerah dengan nuansamusik modern sehingga menghasilkanprodukbernuansahibrid.Hampirsemualagu dalam pertunjukan Gandrung da‐lam versi apapun disco, dangdut, danremixbanyakdijualdikios‐kioskaset.Disampingitu,lagu‐lagugandrungjugater‐sedia lagu‐lagu JangerJinggoan,Kuntulan,danAngklung.Sampaisaatini,lebih dari sepuluh perusahaan rekamantelahberoperasidiBanyuwangi,sepertiAnekaSafariRecord,SandiRecord,KatulistiwaRecord, ScorpioRecord, danGemini Record. Hampir pasti RevitalisasiSastradanBudperu e duk‐silag aya...asi modernitas masyarakat anyu‐wangi.Aspek penciptaan menjadi sangatpentingdalamindustrikreatif,untuk ituada beberapa model dalam pengem‐bangannya, pertama, menekankan padarevitalisasi tradisi lokal yang menjadiinspirasi penciptaan lagu‐lagu yangmengambil dari syair‐syair klasik ritualseblangdan gandrung; kedua, memadu‐kanlagu‐lagudalam keseniantradiside‐ngan pertunjukannya, seperti gandrung,jinggoan,danangklung, dan ketigalebihmenekankan pada eksplorasi keinginanpasardengantetapmentransformasike‐lokalan. Beberapa model ini diharapkanmampu menjadi dasar berkembangnyaekonomi kreatif bagi penggiat seni danmasyarakatBanyuwangi.NoviAnoegrajekti191sahaankasettersebut m mprou‐lagu tradisiBanyuwangi.Musik dengan lagu‐lagu disco, kendangkempul,danpatrollebihbanyakdi‐terima banyak kalangan. Menurut pe‐ngakuan Ahmad Ahyani, sekitar tahun2000,diameramu musik tradisidenganwarna musik yang lain. Dalam albumKangenBanyuwangi,DiscoEthnic2000GandrungTemumenyanyikanlaguyangberjudul“OjoCilikAti”dalamversidisco.“Inibagiandarimenciptakanselerapasar,” ungkapnya. Di luar dugaan, al‐bum tersebut mendapat sambutan luarbiasa dari masyarakat. Dalam sebulan kaset yang diproduksi terjualQomariah,2008108.BahkanbeberapalaguyangdiedarkanolehAnekaSafarihingga pertengahan tahun 2005 seperti“Layangan”, “Tetese Eluh”, “Semebyar”,dan“TelongSegoro”mampumenembusangka masih tetap berlangsung. Halinimenunjukkan peredaranyang cukupfantastis untuk ukuran album yangdiedarkanditingkatlokaltanpapromosibesar‐ Rekaman dalam format ca‐kram digital CD, di satu sisi, menjadimedium baru bagi para musisi untukmasuk ke dalam dalam jagat industrimodern. Di sisi lain, format tersebutmenjadi siasat para musisi Banyuwangiuntuk terus menegosiasikan budaya lo‐kalBanyuwangi di tengah‐tengahtrans‐form BSIMPULANSyair‐syair dalam seni pertunjukan tra‐disidannilai‐nilaisimboliknyadiperjual‐belikandipasarmeleburdalamkomodi‐fikasisimbolikkekuasaan.Sifatidentitasyang constructeddan kontekstual  me‐nyebabkan representasi identitas tidakpernahtunggaldanstatis.Haliniterbacadalam syair‐syair dalam pertunjukanGandrung, Angklung, dan Jinggoan.Identitas Using yang ditegakkan dengankonservasitradisidalamsetiappertun‐jukan akhirnya lebih berbentuk proyekpolitik yang diciptakan dalam kontekspergulatanpolitikdanekonomidiBanyuwangi.  Dalam berbagai ekspresilintasbudaya,perebutankepentinganlo‐kal, nasional, dan global berkontestasidan terus saling berinteraksi secara di‐namis untuk diartikulasikan sebagai ge‐rak kebudayaan. Lagu “Pada Nonton”,“Sekar Jenang”, yang wajib dibawakansaatJejerGandrungtiba‐tibamengalamireproduksi makna ketika lagu tersebutmulai direkam, dipasarkan, dan diper‐dengarkan setiap saat. Sebagai sebuahproduk,budayabarumerupakanbentukperpaduan dan harmonisasi yang dicip‐takanmelaluikebijakan pemerintah dankapitaldalammempertemukanmodern‐itas danlokalitas dalamruang negosiasiyangterus‐menerus.1. Artikel ini disunting dari makalah yang ber‐judul“SastraLokaldanIndustriKreatifRevi‐talisasiSastradanBudayaUsingBerbasisLo‐kalitas” yang saya presentasikan pada “Se‐minar Nasional Bahasa dan Sastra” tanggal ATAVISME,Vol.16,No.2,EdisiDesember2013183—19319212—13September 2012, di Badan Pengem‐bangan dan Pembinaan Bahasa, Kementeri‐anPendidikandanKebudayaan.2. Proyek‐proyekpariwisatadisetiapdaerahdiIndonesia selalu berkaitan dengan alam, et‐nik, dan kebudayaan. Selanjutnya lihat, an‐taralain Logman, 1994; ValeneSmith,”Introduction”, dalam Valene I Smithed. HostandGuestsTheAnthropologyofTourism USA Universitas of Pennsylvaniapress,1977.3. Dengan tekanannya pada penonjolan Using,proyekinimendapatbanyakkritikdanmen‐jadibagiandaripertarunganpolitikdiBanyuwangi.Proyekinidipandangterlalumemihak pada salah satu etnis Using yangberartitidaksesuaidenganpluralitasetnisdiBanyuwangi.4. Selanjutnyalihat,makalah“PatungGandrungdanUlarBerkepalaGatotKacaMitos,Pem‐bongkaran Tanda, dan Representasi Identi‐tas Using,” dalam Prosiding Seminar Nasio‐nal Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan,Depok Departemen Linguistik FIBUniversitas Indonesia, 30 Mei 2012, hal.295.5. Selanjutnya lihat “Upaya Pelestarian Keseni‐anGandrungBanyuwangidieraGlobalisasi”,makalah oleh Tim Yayasan KebudayaanBa‐nyuwangi, disampaikan pada Seminar HaribJadi dan Ke udayaan Banyuwangi, ProspeksertaPengembangannya,21April1994.6. Selanjutnya lihat Novi Anoegrajekti “Keseni‐an Using Resistensi Budaya Komnitas Ping‐igir” dalam Keb jakan Kebudayaan, JakartaPMBLIPI,2001.7. Tenaga kreatif yang terlibat dalam prosesproduksi dan distribusi sekitar 15 orang te‐naga tetap, sementara yang freelanceArieSandi tidak mencatatnya, karena silih ber‐ganti datang dan pergi,  khususnya yang ter‐libatdalamaransemen musik. Data tersebutbelum yang termasuk jumlah mereka yangbekerjadiAnekaSafariRecorddanKhatulistiwaRecord.Datatersebutmenun‐jukkan bahwa industri kreatif musik di Ba‐nyuwangi mempunyai potensi untuk meng‐gerakkan ekonomi kreatif karena mampumenyerap tenaga kerja dan bisa menum‐buhkan modal lokal. Selanjutnya lihat, AgusSariono, dkk. “Rancak Tradisi dalam GerakIndustri Pemberdayaan Kesenian Tradisi‐Lokaldalam Perspektif Industri Kreatif”, La‐poran Penelitian Jember UniversitasJember,2009,hlm.131.8. Selanjutnya lihat, “Banyuwangi Bernyanyiendiri,” Rubrik Kehidupan, Kompas, 13ebruari2005.SFDAFTARPUS AKAAnoegrajekti, Novi. 2001. “KesenianUsing Resistensi Budaya Komuni‐tas Pinggir” dalam KebijakanKebuTdayaandiMasaOrdeBaru. JakartaPMB‐LIPI.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2007. “Patung itu Bukan Penari,”dalam PenariGandrungdanGerakSosialBanyuwangi. Jurnal Srinthil.MediaPerempuanMultikulturalNo.12.DepokDesantara.‐‐‐‐‐‐‐‐. 2010. “Tradisi Basanan danWangsalanWarungBathokanEdu‐kasidanIdentitasMasyarakatUsing,” dalam WacanaAkademika.Majalah Ilmiah Kependidikan Univ.Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3,No.8,Juli2010.‐‐‐‐‐‐‐‐.2013.“PatungGandrungdanUlarBerkepala Gatot Kaca Mitos, Pem‐bongkaranTanda,danRepresentasiIdentitas Using,” Makalah dalamProsiding Seminar NasionalSemiotik,Pragmatik,danKebudayaan.De‐ Linguistik FIB esia.pok DepartemenUniversitas IndonBarker, Chris. 2000. CulturalStudiesTheoryandPractice. London SagePublications.Budianta, Melani. 2008. “Aspek LintasBudaya dalam Wacana Multikultu‐ral,” dalam KajianWacanadalamdanKonteksMultikultural  Multidisiplin.JakartaFIBUI.Hall,Stuart. 1993. “CulturalIdentity andDiaspora,” dalam Patrick Williamsand Laura Chrisman eds. Colonial/DiscourseandPostcolonialTheory.NewYorkHarvester Wheatsheaf.‐‐‐‐‐‐‐‐. 1997. “The Work of Representa‐tion”dalamRepresentationCulturalRepresentationsandSignifyingPractices.LondonSagePublication. RevitalisasiSastradanBudPotts,Jason &StuartCunningham.2008.“Fourmodels of the creative indus‐rnationalJournalofubmittedaya...Singodimayan, Hasnan, et al.2003. GanyBanyuwangiNoviAnoegrajekti193tries”,dalamInteCulturalPolicy.SPrimorac,Jaka.2005.ThePositionofCulturalWorkersinCreativeIndustriesSoutheasternPerspectives.ZagrebEuropeanCulturalFoundation.Richardson,Diane.“LocatingSexualities o ty”,dalamJur‐FromHere toN rmalinalSexualities,Vol74,2004.Saputra, Heru. 2011. FolklorUsingBanyuwangi.JemberFakultasSas‐traUniversitasJember.Sariono, Agus, et al. 2009. “Rancak Tra‐disi dalam Gerak Industri Pember‐dayaan Kesenian Tradisi‐Lokal da‐lamPerspektifIndustri Kreatif”. La‐.poran Penelitian. Jember Universi‐tasJember Singodimayan, Hasnan. 1990. “WarungBathokan Sisi Lain Tradisi Masya‐rakatOsing”dalamSurya,3Novem‐ber.drungBan uwangi.DewanKesenianBlambangan.Spradley, James P. 1997. MetodeEtnografi.YogyakartaTiaraWacana.Tim Yayasan Kebudayaan Banyuwangi.1994. “Upaya Pelestarian KesenianGandrungBanyuwangidieraGlo‐balisasi,” makalah disampaikan pa‐daSeminarHariJadidanKebudaya‐nanBanyuwagi,ProspeksertaPengembangannya,21April1994.Tomic‐Koludrovic, Inga & Mirko Petric.2005. “Creative Industries in Tran‐sitionTowardaCreativeEconomy,”dalam Nada Svob‐Dokic ed.. TheEmergingofCreativeIndustriesinEuropeSoutheastern. ZagrebInstituteforInternationalRelations.Qomariyah, Nunung. 2008. “Industriali‐sasiRekamandanNasibSenimanTradisi,”dalamEtnografiGandrungPertarunganIdentitas. Depok De‐santara. ... Oral tradition is one of the main objects that can be developed to produce creative products. The creative industry is intended as a system and economic practice based on knowledge and creativity [10]. Therefore, YouTube and Instagram social media were chosen for this study. ...This study aims to understand and explore the enduring values in the Using ethnic literature at the eastern end of Java, especially in the context of ritual discourse. By applying an ethnographic approach, especially the emic perspective, data were collected using participatory observation and in-depth interview techniques. Participatory observations were made of the Seblang Olehsari and Seblang Bakungan ritual processions, while in-depth interviews were conducted with 10 informants. Data were analyzed using orality and liminality techniques, and then cultural interpretations were carried out to obtain the meaning of locality values in the context of modern society. The results show three important dimensions dimension of excellence, liminality, and locality, which reflected the cultural ideology of safety in the union of microcosms and macrocosms. Thus, the existence of the values of local wisdom in the Using ethnic literature is still relevant in today's social life so that it is still functioning until now in the context of modern society. The dominant element of Using ethnic literature is the formation of traditional social institutions that lead to social safety and harmony, both in vertical microcosms and horizontal relationships macrocosms,a combination of the three SungkowatiAbstrakPenelitian ini bertujuan membahas bagaimana alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” dan perubahan yang terjadi dalam alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi produk industri kreatif. Teori yang digunakan adalah alih wahana dan sastra bandingan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi dokumentasi, baik cetak maupun digital. Penelitian dilakukan selama enam bulan April—September 2021 di Surabaya. Analisis data dilakukan dengan metode perbandingan. Hasil penelitian menunjukan bahwa alih wahana cerita rakyat “Asal Usul Surabaya” menjadi kerajinan berupa patung dan miniatur patung masih mempertahankan tokoh dan tema utama perkelahian Sura dan Baya. Alih wahana dalam bentuk desain batik, kaos, dan berbagai merchandise lainnya masih mempertahankan tokoh utama Ikan Sura dan Baya, namun dengan perubahan-perubahan pada tema, tidak lagi hanya tentang perkelahian tetapi juga persaudaraan. Perubahan paling banyak terjadi pada alih wahana menjadi sinematografi dalam film animasi Grammar Suroboyo dan Culoboyo. Kata kunci sastra, industri kreatif, alih wahana, sastra bandingan AbstractThis study aims to discuss how is the transformation of story “The Origin of Surabaya” and the changes in transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into creative industry products. It uses transformation and comparative literary theory. The collection of data is done by observation, interview, and dokumentation study, both print and digital. This research is conducted during six months April-September 2021 in Surabaya. Data analysis was carried out by comparison method. The results show that transformation of folktale “The Origin of Surabaya” into crafts in the form of sculpture and miniature statues still maintain character and main theme of Sura and Baya fight. Transformation in the form of batik design, shirt, and other merchandises still maintain main character Sura fish and Baya, but with many changes to a theme, no longer just about fighting but also brotherhood. The most changes occured in the transformation into chinematography in animated Grammar Suroboyo and Culoboyo. Keywords literature, creative industry, transformation, comparative literary theoryDalam perkembangan media, terutama maraknya penggunaan media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Youtube, banyak masyarakat Using yang memanfaatkan media sosial tersebut untuk mengungkapkan isi hati dengan menggunakan basanan. Makna yang penting dari dinamika peradaban ini bagi masyarakat Using, bahwa kelisanan primer kini telah memasuki kelisanan sekunder atau kelisanan berbasis digital. Hal ini menjadi cerminan dinamika kebudayaan study aims to discuss the lyrics of the Basanan song by Nurdian, sung by Catur Arum and posted on the Youtube channel, interprets the Using Banyuwangi culture in the context of secondary orality. This study uses a qualitative method with an oral approach to analyze the formula and oral characteristics in the text of the Basanan song. The results showed that the text of the Basanan song contained the tautotes repetition formula, mesodiplosis repetition formula, anaphora repetition formula, and showed formulaic expressions. The language characteristics in the Basanan text are the characteristics of spoken language because they are additive and aggregative. The substance of the text of the Basanan song reflects the cultural condition of the Using community. In the development of media, many Using people use social media to express artistic expression and for financial gain. The significance of the dynamics of civilization for the Using people is that the primary oral language has now entered the secondary oral language and has become a popular cultural product for the Using people, Banyuwangi, reflecting the dynamics of their civilization. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang lirik lagu Basanan karya Nurdian yang dinyanyikan Catur Arum dan diposting di kanal Youtube memaknai budaya Using Banyuwangi dalam konteks kelisanan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan lisan untuk menganalisis rumus dan ciri lisan dalam teks lagu Basanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks lagu Basanan mengandung rumus pengulangan tautotes, rumus pengulangan mesodiplosis, rumus pengulangan anafora, dan menunjukkan ekspresi rumus. Ciri kebahasaan dalam teks Basanan merupakan ciri bahasa lisan karena bersifat aditif dan agregatif. Substansi teks lagu Basanan mencerminkan kondisi budaya masyarakat Using. Dalam perkembangan media, banyak orang Using menggunakan media sosial untuk mengekspresikan ekspresi seni dan untuk keuntungan finansial. Arti penting dinamika peradaban bagi masyarakat Using adalah bahwa bahasa lisan primer kini telah memasuki bahasa lisan sekunder dan menjadi produk budaya populer bagi masyarakat Using, Banyuwangi, yang mencerminkan dinamika HALLA new cinema of the Caribbean is emerging, joining the company of the other 'Third Cinemas'. It is related to, but different from the vibrant film and other forms of visual representation of the Afro-Caribbean and Asian 'blacks' of the diasporas of the West - the new post-colonial subjects. All these cultural practices and forms of representation have the black subject at their centre, putting the issue of cultural identity in question. Who is this emergent, new subject of the cinema? From where does he/she speak? Practices of representation always implicate the positions from which we speak or write - the positions of enunciation. What recent theories of enunciation suggest is that, though we speak, so to say 'in our own name', of ourselves and from our own experience, nevertheless who speaks, and the subject who is spoken of, are never identical, never exactly in the same place. Identity is not as transparent or unproblematic as we think. Perhaps instead of thinking of identity as an already accomplished fact, which the new cultural practices then represent, we should think, instead, of identity as a 'production', which is never complete, always in process, and always constituted within, not outside, representation. This view problematises the very authority and authenticity to which the term, 'cultural identity', lays claim. We seek, here, to open a dialogue, an investigation, on the subject of cultural identity and representation. Of course, the 'I' who writes here must also be thought of as, itself, 'enunciated'. We all write and speak from a particular place and time, from a history and a culture which is specific. What we say is always 'in context', positioned. IKesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi girNovi SelanjutnyaAnoegrajektiSelanjutnya lihat Novi Anoegrajekti "Kesenian Using Resistensi Budaya Komnitas Pingi gir" dalam Keb jakan Kebudayaan, Jakarta PMB LIPI, 2001.Banyuwangi Bernyanyi endiriSelanjutnyaSelanjutnya lihat, "Banyuwangi Bernyanyi endiri," Rubrik Kehidupan, Kompas, 13 ebruari Penari Gandrung dan Gerak Sosial BanyuwangiNovi AnoegrajektiAnoegrajekti, Novi. 2001. "Kesenian Using Resistensi Budaya Komunitas Pinggir" dalam Kebijakan Kebu T dayaan di Masa Orde Baru. Jakarta PMB-LIPI. -. 2007. "Patung itu Bukan Penari," dalam Penari Gandrung dan Gerak Sosial Banyuwangi. Jurnal Srinthil. Media Perempuan Multikultural No. 12. Depok Desantara. -. 2010. "Tradisi Basanan dan Wangsalan Warung Bathokan Edukasi dan Identitas Masyarakat Using," dalam Wacana Akademika. Majalah Ilmiah Kependidikan Univ. Sarjanawiyata Tamansiswa. Vol. 3, No. 8, Juli 2010. -. 2013. "Patung Gandrung dan Ular Berkepala Gatot Kaca Mitos, Pembongkaran Tanda, dan Representasi Identitas Using," Makalah dalam Prosiding Seminar Nasional Semio tik, Pragmatik, dan Kebudayaan. De-Linguistik FIB esia. pok Departemen Universitas Indon Barker, Chris. 2000. Cultural Studies Theory and Practice. London Sage Lintas Budaya dalam Wacana MultikulturalMelani BudiantaBudianta, Melani. 2008. "Aspek Lintas Budaya dalam Wacana Multikultural," dalam Kajian Wacana dalam dan Konteks Multikultural Multidi siplin. Jakarta FIB UI.

bagaimana cara memadukan budaya lokal dengan industri kreatif