tiga orang membentuk kemitraan

Dalamhal ini ada tiga hal yang harus nyata dilakukan dalam membina sebuah kemitraan. Pertama, kesetaraan atau keseimbangan {equity). Artinya harus ada pendekatan bukan secara top down ataupun bottom up.Tapi hubungan yang saling menghormati satu sama lain, menghargai dan percaya dengan mengedepankan kesetaraan yang meliputi adanya penghargaan, kewajiban, dan ikatan emsional saling membutuhkan dan melengkapi. Orangtua penting untuk memahami bahwa pendidikan karakter tidak bisa hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga harus dilakukan juga dalam kehidupan di keluarga. Secara praktis, pendidikan karakter dapat dipahami melalui tiga proses, yaitu "knowing the good, loving the good, dan acting the good". Orang tua harus melakukan sosialisasi nilai-nilai karakter, menjadikan anak mencintai nilai-nilai tersebut, serta membiasakan anak melakukan nilai-nilai tersebut. Tigaorang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginventasikan 4500 dolar. Y sebesar 3500 dolar dan Z sebesar 2000 doalr. Jika keuntungan mencapai 1500 dolar, lebih kurang berapa yang akan diperoleh X. jika keuntungan dibagi? a. 1500 b. 450 c. 525 d. 675 e. 750 JAWAB PAKE CARA YA Seorangpengusaha yang membentuk kemitraan mungkin memiliki hasrat untuk sentuhan baru di sebuah restoran, tetapi akan lebih baik dilayani dengan menciptakan kemitraan dengan orang lain yang memahami bisnis restoran. Dalam hal ini, kepentingan pengusaha akan ditentukan oleh perjanjian kemitraan dengan mitra lain yang membantu dalam pembiayaan Tigaepigram lainnya dibuat oleh Leonidas dari Aleksandria dan Antifilus dari Bizantium. Sebuah cerita Asia Barat yang berdasarkan pada peribahasa tersebut ditemukan dalam dokumen biblikal palsu, Apokrifon Yehezkiel, dimana dua orang membentuk kemitraan untuk menyerbu kebun bunga namun mengklaim kesucian mereka dengan menekankan kecacatan mereka. Site De Rencontre A Tahiti Gratuit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat kemudian dicoba terus untuk dikembangkan. Oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat DRPM Ditjen Penguatan Risbang Kemenristekdikti mencoba menerapkan paradigma baru. Salah satu upaya dan harapan dari penerapan paradigma baru ini adalah untuk melaksanakan program pengabdian yang problem solving, komprehensif, bermakna, tuntas, dan berkelanjutan sustainable dengan sasaran yang tidak tunggal. Perubahan paradigma ini kemudian menjadi latar belakang dilaksanakannya program kemitraan masyarakat atau PKM. Lewat program inilah, setiap dosen yang menjalankan pengabdian bisa mendorong masyarakat untuk mendapatkan perbaikan perekonomian lewat kegiatan usaha. Program ini kemudian bisa mendorong masyarakat untuk menjalankan kegiatan wirausaha. Sehingga bisa memiliki usaha sendiri sekaligus membuka lapangan pekerjaan secara luas. Seperti apa programnya dan bagaimana menjalankannya? Berikut ulasannya. Tentang Program Kemitraan Masyarakat Tujuan Kegiatan Program Kemitraan MasyarakatLuaran Kegiatan Program Kemitraan MasyarakatKriteria Kegiatan dan Persyaratan Pengusul Program Kemitraan Masyarakat Tentang Program Kemitraan Masyarakat Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan oleh para dosen sudah berlangsung sejak lama. Kemudian kegiatan ini terus dikembangkan agar bisa memberikan efek positif yang lebih besar dan bermanfaat dalam jangka panjang. Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat DRPM Ditjen Penguatan Risbang Kemenristekdikti mencoba menerapkan paradigma baru. Yakni pada program pengabdian kepada masyarakat. Paradigma baru ini adalah ingin menjalankan program yang sifatnya problem solving, komprehensif, bermakna, tuntas, dan berkelanjutan sustainable dengan sasaran yang tidak tunggal. Sehingga di dalam pengabdian kepada masyarakat tidak hanya mensosialisasikan suatu teknologi maupun solusi. Melainkan mampu menyelesaikan masalah di masyarakat secara tuntas dan berkelanjutan. Melalui aspek inilah, Kemenristek Dikti kemudian mencetuskan Program Kemitraan Masyarakat atau PKM. Sesuai dengan namanya, program ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menjalin kemitraan yang berujung pada kegiatan wirausaha. Setiap masyarakat membentuk kelompok atau kemudian menjalin kerjasama dengan kelompok masyarakat lain. Misalnya kerjasama antara satu RT dengan RT lainnya, kerjasama antara satu Puskesmas dengan Puskesmas lainnya, dan seterusnya. PKM kemudian dijelaskan memiliki sasaran atau target masyarakat dengan karakter tertentu. Yaitu Masyarakat yang produktif secara ekonomi usaha mikro. Masyarakat yang belum produktif secara ekonomis, tetapi berhasrat kuat menjadi wirausahawan, dan juga Masyarakat yang tidak produktif secara ekonomi masyarakat umum/biasa. Dalam Program Kemitraan Masyarakat atau PKM, masyarakat yang produktif secara ekonomi kemudian membentuk kelompok. Satu kelompok terdiri dari 3 orang yang sama-sama produktif secara ekonomi. Kemudian menjalin kemitraan dengan kelompok lainnya. Kemudian, masyarakat yang belum produktif secara ekonomi misalnya sebuah sekolah. Maka perlu menjalin kemitraan dengan sekolah lain, sehingga satu kelompok terdiri dari dua sekolah. Baca Juga 12 Indikator Kinerja Penelitian yang Perlu Dicapai Dosen Ketentuan Umum Pengelolaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 8 Standar Nasional Penelitian yang Harus Dipenuhi Tujuan Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat Kegiatan atau Program Kemitraan Masyarakat ini kemudian memiliki sejumlah tujuan, tujuan ini antara lain Membentuk/mengembangkan sekelompok masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Membantu menciptakan ketentraman, dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat, danMeningkatkan keterampilan berpikir, membaca dan menulis atau keterampilan lain yang dibutuhkan softskill dan hardskill. PKM yang kedepannya akan berjalan diharapkan bisa membentuk kelompok masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Misalnya bisa memiliki pekerjaan atau mendirikan suatu usaha yang menarik banyak tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Selain itu juga bertujuan untuk menciptakan ketentraman dan kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab saat masyarakat sudah mandiri dan bisa mencukupi kebutuhan hidup mereka maka mereka memiliki kemudahan untuk tidak merasa iri, cemburu. Selain itu juga tidak ada niatan untuk melakukan tindak kejahatan seperti mencuri, menjarah, dan lain-lain. Hal inilah yang kemudian ikut mendorong terciptanya ketentraman dan juga kenyamanan dalam hidup bermasyarakat. PKM atau Program Kemitraan Masyarakat ini juga diharapkan bisa meningkatkan keterampilan masyarakat. Baik itu dalam bentuk softskill maupun hardskill yang bisa dimanfaatkan untuk mendirikan usaha sendiri maupun berkarir di perusahaan. Baca Juga Skema Penelitian Pengembangan Unggulan Perguruan Tinggi Skema Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi Skema Pembiayaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat yang Terbaru Luaran Kegiatan Program Kemitraan Masyarakat Sebagai kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh dosen dan prosedur pelaksanaannya diatur oleh pemerintah melalui Kemenristek Dikti. Maka kegiatan PKM ini memiliki luaran atau pencapaian hasil yang sudah ditargetkan secara jelas. Luaran kegiatan PKM mencakup luaran wajib dan luaran tambahan, berikut detailnya untuk luaran wajib Satu artikel ilmiah yang dipublikasikan melalui Jurnal ber ISSN atau prosiding dari seminar pada media massa cetak/online/repository daya saing peningkatan kualitas, kuantitas, serta nilai tambah barang, jasa, diversifikasi produk, atau sumber daya lainnya sesuai dengan jenis kegiatan yang diusulkan.Peningkatan penerapan iptek di masyarakat mekanisasi, IT, dan manajemen. Perbaikan tata nilai masyarakat seni budaya, sosial, politik, keamanan, ketentraman, pendidikan, kesehatan. Sementara untuk luaran tambahan dalam PKM ini antara lain Metode atau sistem, Produk Barang atau Jasa,HKI,buku ber-ISBN,Inovasi TTG, danPublikasi Internasional. Luaran tambahan sifatnya tidak wajib, hanya saja jika mencapainya tentu menjadi nilai tambah. Oleh sebab itu bisa dipertimbangkan untuk mengatur waktu kegiatan dengan baik dan menyusun daftar pencapaian atau target. Sehingga memperbesar peluang untuk mencapai luaran tambahan. Luaran tambahan ini sekaligus membantu menambah total angka kredit dosen atau kum. Sehingga ikut mempengaruhi proses pengembangan karir dosen di dunia akademik. Kriteria Kegiatan dan Persyaratan Pengusul Program Kemitraan Masyarakat Program Kemitraan Masyarakat kemudian memiliki sejumlah kriteria yang harus dipenuhi. Dosen yang mengusulkan program juga wajib memenuhi sejumlah persyaratan yang telah ditentukan. Berikut detail kriteria dan persyaratan pengusul Pengusul dengan kompetensi multidisiplin sesuai dengan bidang yang diusulkan minimal dua kompetensi, dan dimungkinkan untuk berkolaborasi dengan perguruan tinggi lain bila dosen dengan kompetensi yang diperlukan tidak ada di perguruan tinggi ketua PKM adalah program mono tahun dengan jangka waktu kegiatan selama delapan tim pelaksana maksimum tiga yang disediakan sebesar – pengusul mempunyai satu kesempatan sebagai ketua dan satu kesempatan sebagai anggota pada skim yang berbeda dalam tahun yang tanda tangan pada Halaman Pengesahan, Biodata Pengusul, dan Surat Kesepakatan Kerjasama Mitra harus asli bukan hasil pemindaian.Usulan disimpan menjadi satu file dalam format pdf dengan ukuran maksimum 5 MB dan diberi nama kemudian diunggah ke Simlitabmas dan dokumen cetak diarsipkan di perguruan tinggi masing-masing. Bagi para dosen yang sudah memenuhi kriteria dan persyaratan yang dijelaskan tersebut, maka bisa menyusun proposal pengajuan usulan. Usulan ini sesuai penjelasan sebelumnya dikirimkan atau diajukan secara daring lewat laman Simlitabmas. Adapun format usulan atau proposal pengajuan usulan maksimal terdiri dari 20 halaman dan tidak termasuk sampul, halaman pengesahan, dan lampiran. Adapun ketentuan lainnya secara teknis adalah ditulis dengan huruf Times New Roman ukuran 12 dengan jarak baris 1,5 spasi dan ukuran kertas A-4. Silahkan menyusun dulu proposal usulan, dan diajukan secara daring melalui akun Simlitabmas yang sudah dimiliki. Selanjutnya tinggal menunggu tahap seleksi, yang akan dilakukan beberapa tahap. Jika usulan lolos seleksi maka program akan didukung dan difasilitasi pendanaannya oleh pemerintah. Artikel Terkait Program Pendanaan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Program Retooling Kompetensi Vokasi Dosen Program Bilateral Exchange Program DGHE-KSPS Joint Research Projects for Fiscal Year 2022 Program Beasiswa Dosen S3 yang Bisa Diikuti Program Stipendum Hungaricum Scholarshop 2022/2023 Program Terobosan Kemendikbud Ristek Tahun 2022 ArticlePDF AvailableFigures Content may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. Vol. 1, No. 1, Agustus 2016 22 - 34PRofesi Humas - Jurnal Ilmiah Program Studi Hubungan Masyarakat ISSN 2528 - 6927MODEL KEMITRAAN PT. HOLCIM INDONESIA Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaProgram Studi Hubungan Masyarakat, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas PadjadjaranJalan Raya Jatinangor-Sumedang enassalukarahma penelitian ini adalah untuk tahap perumusan kebutuhan bersama, pembentukan landasan bersama dan vis misi, penyusunan agenda kegiatan, penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan, dan penyusunan strategi penghentian kemitraan. Metode yang digunakan adalah deskiptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber penelitian, proses awal adalah dengan merumuskan kebutuhan bersama melalui social mapping, mengatasi perbedaan latar belakang kedua pihak dan mengadakan pelatihan. Tahap kedua adalah mengadakan pertemuan tertutup membahas landasan bersama, visi misi, kemudian menyatukan informasi tentang kebutuhan dengan visi misi untuk merencanakan agenda kegiatan. Selanjutnya, kedua pihak menyusun agenda kegiatan lewat road map dan Balanced BussinesPlan, serta merencanakan struktur kerja formal. Tahap selanjutnya adalah penyampaian rencana aksi berupa pemberian layanan atau jasa pada implentasi program CSR, menjaga keterlibatan pihak bermitra, serta evaluasi kemitraan. Tahap penyusunan exit strategy dilakukan dengan langkah perencanaan dan persiapan, perencanaan tindakan lanjut, serta persiapan generasi pada penelitian ini adalah agar pihak perusahaan banyak mengadakan pelatihan khususnya mengenai pengelolaan CSR. Perusahaan sebaiknya menggunakan metode audit komunikasi sebagai salah saru cara mengevaluasi kemitraan ini. PKM sebaiknya mengkuantikasikan ukuran tindakan yang mereka usulkan untuk di lakukan dengan tabel kuantikasi kebutuha. PKM sebaiknya lebih ulet merencanakan program CSR walau sederhana. Pemerintah sebaiknya mendukung praktik comdev seperti ini dengan memberikan kemudahan birokrasi saat pelaksanaan CSRKata kunci Kemitraan, Model, Pengembangan Model Kemitraan, Pengembangan Masyarakat, Hubungan KomunitasPARTNERSHIP MODEL BY PT. HOLCIM INDONESIA TBK. ABSTRACTThis study aims to determine the step of a development model for patrnership. Firstly assessement of common need, to establish the common ground and objective, arrange the agenda for actions, delivery action plan and evaluate the operations of the partnership, and arrange the exit strategy. This research used positivistic paradigm and descriptive research type. The data collection techniques used are indept interview, observation, and study of of the data using sources result of this research, the rs process overcomes differences in background, assessed of mutual need with social mapping, and created trainings for PKM. Second step is to arrange closed meeting to established the common ground & vison and mission, the united the informations of need with those vison and mission for arranged the agenda. Then, both of member of parthership arranged the agenda of actions trough road map and Balance Business Plan, and arranged the formal framework. Next step is to deliver its action plan by giving out services or some other function in CSR program implementation, the executive arm seeks to maintained the involvement of all partners, and evaluated the partnership operation. The exit strategy arrangement by planning and preaparing including follow up, and prepare for the next can be given coming out from this rersearch are; corporate should arrange training specially CSR management training. The Corporate should use communication audit method as one of the evaluating technique for this partnership. PKM should quinties the size of the task they propose to undertake by creating a table of quantication need. PKM should more resilient in planning CSR program eventough it just simple planning. The government should support the community development practice by simplied the bureaucracy of CSR implementationKey words Partnership, Model,A development partnership model, community development, community relations 23Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia relations merupakan salah satu bagian dari tanggung jawab sosial per-usahaan. Dalam praktik community relations, banyak aktivitas-aktivitas yang dijalankan. Salah satunya adalah membentuk kemitraan antara organisasi/ perusahaan/ lembaga dengan komunitas/ masyarakat sekitar dengan tujuan untuk community development. Kemit-raan ini merupakan bentuk keterlibatan komunitas dari sebuah lembaga/ organisasi bisnis. Lembaga tersebut tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga yang hanya mencari keuntungan ekonomi semata, tetapi juga mementingkan dan memperhatikan manfaat untuk komunitasnya Praktik kemitraan antara organisasi bisnis dan komunitas untuk pengelolaan program CSR bisa kita lihat di Indonesia salah satunya di PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant mempunyai banyak tantangan ketika pertama kali dibangun di Tuban. Hal ini ditunjukkan dengan adanya masyarakat yang kontra terhadap pembangunan pabrik di sekitar wilayah Tambak boyo. Masyarakat menilai perusahaan akan memberikan dampak buruk terhadap alam dan kelangsungan serta kesejahteraan hidup masyarakat sekitar pabrik. Berdasarkan per-masalahan-permasalahan yang timbul, Holcim Tuban segera mengambil langkah dimulai dari menjalankan tanggung jawabnya kepada masyarakat. Kemudian PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant giat melakukan kegiatan com-munity development untuk masyarakat sekitar lewat “Pusat Kegiatan Masyarakat PKM”. Dalam membentuk PKM, Holcim mengusung konsep pemberdayaan Community Based Organization CBO atau organisasi berbasis masyarakat. PKM merupakan inisiasi antara Holcim Tuban dan masyarakat sekitar. PKM terdiri dari perwakilan tiap desa di ring 1 yang berjumlah enam desa, yaitu Merkawang, Mliwang, Glondonggede, Sawir, Kedungrejo dan Karangasem. Kemudian PKM digandeng Holcim untuk dijadikan sebagai mitra.“Awalnya, PKM dilibatkan untuk mengawasi dan mengawal kegiatan CSR yang dilakukan perusahaan Seiring ber-jalannya waktu akhirnya tugas kami sampai pada mengelola kegiatan CSR”1Pada awal kemitraan tersebut, Holcim Tuban dan PKM masih menggunakan konsep ke-mitraan sederhana. PKM hanya bertugas untuk mengawal kegiatan CSR yang akan dilak-sanakan. Pada saat melakukan pengkajian dan pemahaman keadaan atau kondisi desa, PKM diberikan kesempatan untuk menyampaikan saran dan pendapat tentang kondisi awal desa kepada Holcim. Holcim kemudian mem-pertimbangkan pendapat-pendapat tersebut untuk kemudian berupaya mencari konsep yang 1 Wawancara pertama dengan Makruf, Ketua Pusat Kegiatan Masyarakat PKM, di kantor PKM Tuban, 20 Januari 2015Bagan Model Kemitraan Awal PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan PKM Tabel 1. Model Kemitraan Awal PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan PKM 24 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnasesungguhnya dari kegiatan CSR tersebut. PKM hanya menerima informasi kapan pelaksanaan kegiatan dilakukan dan hanya melakukan pemantauan terhadap kegiatan tersebut. Evaluasi kegiatan hanya dilakukan oleh pihak perusahaan. PKM terkadang hanya melakukan evalusasi terhadap CSR dilihat dari aspek budaya dan karakter kemitraan yang lama, setiap tahapan dalam implementasi aktivitas CSR, PKM kurang dilibatkan. Misalnya pada inisiasi program, PKM tidak mempunyai peran untuk memadukan informasi mengenai kebutuhan mereka sehingga memunculkan sebuah ide untuk agenda kegiatan CSR yang sesuai. Mereka juga minim peran untuk merencanakan sendiri aspek-aspek penting perencanaan strategis dalam menyusun agenda kegiatan tersebut. Pada tahap evaluasi kemitraan dilakukan dengan hanya sebatas obrolan santai mengenai keberlangsungan kemitraan tersebut. Semua aktivitas tersebut memang sebagian besar dijalankan oleh pihak eksekutif kemitraan dalam hal ini adalah PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban dari dikembangkannya model kemitraan ini adalah perusahan ingin melibatkan masyarakat lokal dalam mengembangkan ini-siatif untuk membuat usulan tentang kebutuh-an mereka, tentang sebuah kegiatan yang bisa meningkatkan masyarakat baik dari segi pendidikan, kesehatan, sosial, dll. Perusahaan ingin agar masyarakat lokal tidak semata-mata dilibatkan sebagai objek saja, tetapi juga menjadi subjek dari pelaku kegiatan CSR. Perusahaan ingin mendampingi masyarakat agar berkembang menjadi masyarakat yang mandiri. Masih dalam pertemuan penyusunan BBP, Holcim dan PKM merumuskan perencana-an untuk program-program CSR yang akan dilakukan selama satu tahun kedepan. Apa saja yang menjadi tujuan pelaksanaan program tersebut, siapa saja sasaran programnya, apa saja objektifnya, siapa saja yang menjadi penanggungjawab saat pelaksanaan program berlangsung. “Iya. Jadi mereka bener-bener bisa mandiri. Kalau sampai sekarang ini, mungkin kalau dibikin persen, paling baru 30-40% inisiasi program yang berasal dari PKM. Sebagian besar memang masih dari Holcim. Cuman, dalam hal persiapan, eksekusi, sampai evaluasi memang koordinasi selalu sama PKM. Jadi yang kita harapkan nantinya lambat laun 100% inisiasi sampai evaluasi itu dari PKM”2Pengembangan kemitraan dilakukan karena kedua pihak ingin kemitraan ini berhasil dijalankan. Keberhasilan tersebut dapat ter-wujud jika kemitraan sudah mempunyai karakter-karakter seperti kejelasan mengenai agenda bisnis yang dihasilkan, goals sesuai dengan objective, berpotensi untuk melibatkan karyawan, digambarkan dengan jelas dan mempunyai ekspektasi yang realistis, saling menghormati dan ada keinginan untuk saling belajar, partner yang solid melakukan per-ubahan, hubungan yang saling jujur dan terbuka, hubungan kerja yang eksibel, berkomitmen untuk tetap berkomunikasi secara terus menerus, investasi dari kedua pihak, berakar pada komunitas tidak merendahkan potensi perbedaan budaya kedua pihak yaitu budaya perusahaan dan budaya komunitas, kemitraan yang berhasil menunjukkan akul-turasi karyawan-karyawan perusahaan terhadap komunitas, serta berkomitmen jangka panjang untuk menerima hasilnya. Melalui konsep seperti ini masyarakat diharapkan mampu menganalisis tentang kebu-tuhan dan kondisi mereka sendiri sehingga potensi aset-aset lokal dan keanekaragaman sosial budaya di daerah sekitar pabrik dapat dimanfaat-kan bagi pencapaian kemandirian, lepas dari ketergantungan sebagai tujuan pembangunan yang sesungguhnya. Holcim Tuban ingin agar masyarakat benar-benar merasa diberdayakan dan upaya untuk membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera bisa tercapai. Dengan konsep baru ini diharapkan pula masyarakat mampu merasakan multiplier effect yang telah diberikan perusahaan, sehingga masyarakat bisa lebih produktif. Konsep ini mengandung pendidikan kemandirian, memposisikan mereka dalam derajat keberdayaan dan bermuatan buttom up, serta memiliki pendidikan kemandirian stakeholder community development.Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui tahap perumusan kebutuhan bersama dalam pengembangan kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Wawancara kedua dengan Ninda Luhur, community relations ocer PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant,di kantor comrel Holcim Tuban, 16 November 2015 25Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia Untuk mengetahui tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi dalam pengembangan kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyusunan agenda kegiatan dalam pengembangan kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan dalam pengembangan kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Untuk mengetahui tahap penyusunan strategi penghentian kemitraan exit strategy dalam kemitraan Indonesia Tbk. Tuban Plant dan PUSTAKA1. Public RelationsJohn E. Marston dalam Ruslan, 20135 memberikan denisi Humas atau Public Relations “Public Relations is planned, persuasive communication designed to inuence signicant public”. 2. Hubungan Komunitas Community RelationsJerold dalam Iriantara, 201020 menjelas-kan denisi community relations sebagai “Peningkatan partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk kemas-lahatan bersama bagi organisasi dan komunitas.”Satu prinsip yang hendak dikembangkan melalui community relations adalah mengem-bangkan hubungan bertetangga yang baik, karena hal tersebut bisa memberikan manfaat yang sangat Exit StrategyDenisi exit strategy dalam wirausaha dan manajemen strategi menurut web 2013 adalah“Langkah yang dipilih para pelaku usaha untuk sengaja meninggalkan bisnisnya guna merencanakan bidang usaha baru atau menyerahkan kendali usaha kepada generasi penerusnya” Subiyantoro 2013 mengutip pernyataan Rogers dan Macias bahwa ada tiga jenis strategi pengakhiran suatu program, yaitu phase down fase penurunan, phase over fase pengalihan, dan phase out fase penghentian.4. Pengembangan Masyarakat community developmentPengembangan masyarakat community development merupakan bentuk lain dari program community relations. Menurut Iriantara 2010173 “pengem-bangan masyarakat pada dasarnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimili ki masya-rakat itu. Masyarakat dalam konteks ini berperan sebagai partisipan sekaligus pemetik manfaat dari pembangunan. Pengembangan masyarakat dipandang sebagai pendekatan pembangunan yang bersifat bottom-up atau down-top.”Terkait dengan berdirinya suatu perusahaan di sekitar komunitas lokal, maka perusahaan diharapkan untuk meningkatkan peran serta komunitas dalam kegiatan perusahaan atau untuk menghindar dari munculnya ketidak-setaraan terhadap kondisi sosial ekonomi komunitas dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, dalam diperlukan suatu wadah program yang berguna untuk menciptakan kemandirian komunitas lokal untuk menata sosial ekonomi mereka sendiri dengan diciptakan suatu wadah yang berbasis pada komunitas yang sering disebut dengan community development yang tujuannya untuk pemberdayaan komunitas community empowerment.5. Kemitraan Bisnis-KomunitasDalam review penelitian sejenis oleh Fadilah 2011160, Hafsah menyatakan “Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat atau keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan saling mengisi berdasarkan pada kesepakatan.”Tetapi untuk konsep community relations ini, kemitraan yang dimaksud bukanlah kemit-raan dalam konteks usaha besar dan usaha kecil. “Kemitraan ini dikembangkan sebagai wujud keterlibatan komunitas organisasi bisnis, dan organisasi bisnis memandang dirinya bukan sekedar mesin ekonomi yang bekerja untuk mendapatkan keuntungan tetapi juga memancang dirinya sebagai institusi sosial yang bisa memberikan manfaat secara sosial.” Iriantara, 2010167 26 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaKanter dalam Rogovsky, 2000 7 men-jelaskan bahwa secara umum, kemitraan dengan komu-nitas lebih kompleks dibandingkan dengan tipe kemitraan organisas bisnis-organisasi bisnis. Kesulitan-kesulitan tersebut bisa diatasi, bagaimanapun, jika kemitraan mempunyai karakter-karakter sebagai berikutPengembangan KemitraanMengembangkan kemitraan merupakan salah satu praktik community relations yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan. Di dalamnya pun terkandung tujuan untuk kemaslahatan bersama. Criss Gribben dalam Rogovsky, 200011 menyebutkan bahwa dalam pengembangan ke- mitraan antara organisasi bisnis dan komunitas terdapat tahapan-tahapan seperti Sumber Rogovsky 200011Tabel 1 Karakteristik Kemitraan Bisnis-Komunitas yang SuksesTabel 2 Pengembangan Model KemitraanSumber Rogovsky 200086. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Corporate Social ResponsibilityMenurut The World Business Council for Sustainable Development WBCSD dalam Wibisono 20077 “Tanggung jawab sosial perusahaan merupakan komitmen dunia usaha untuk terus menerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya sekaligus juga peningkatan kualitas komunitas lokal dan masyarakat luas.”Kerangka PemikiranGambar 2 Kerangka PemikiranLatar Belakang Pada prkatik community relations, banyak aktivitas-aktivitas yang dijalankan. Salah satunya adalah membentuk kemitraan antara organisasi/ perusahaan/ lembaga dengan komunitas/ masyarakat sekitar. Ho lcim membentuk PKM, perwakilan masyarakat sebagai bentuk community development yang kemudian dijadikan sebagai mitra dalam mengawa l program CSR. Seiring berjalannya waktu, kemitraan dikembangkan dan PKM akhirnya dipercaya untuk mengelola kegiatan CSR dar i tahap perencanaan hingga evaluasi. Tahap aw al pengembanga n adalah merumusk an kebutuhan ber sama, kemudian melakukan pertemuan untuk menyusun agendaCSR selama satu tahun kedepan. Fokus Penelitia n “Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indones ia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan Masyarakat PKM sebagai Bentuk Community Development” Pertanyaan P enelitian 1. Bagaimana tahap perumusan kebutuhan dalam pengemba ngan kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuba n Plant dan PKM? 2. Bagaimana tahap pembentukan andasan bersama dan visi misi dalam pengembangan kemitraan Indones ia Tbk. Tuban Plant deng an PKM? 3. Bagaimana tahap penyusunan agenda kegiatan da lam pengemba ngan ke mitraan P im Indone sia Tbk. Tuban Plant de ngan PKM? 4. Bagaimana tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemit raandalam pengembangan kemitraan im Indonesia Tbk. Tuban Plant dengan PK M? 5. Bagaimana tahap penyusunan strategi penghentian kemitraan exit strategy dalam pengembangan kemitraa n lcim Indone sia Tbk. T uban Plant dengan PKM?KONSEP “Pengembangan Kemitraan” -Chriss Gribben- Hasil Penelitian Menggambarkan Pengembangan Model Kemitraan PT. Holc im Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan Masyarakat PKM sebagai Bentuk Community Development METODOLOGI PENELITIANDalam penelitian ini menggunakan para-digma positivistik. Penelitian yang meng-gunakan paradigma ini berupaya menunjukkan kebenaran realitas yang ada, dan bagaimana realitas tersebut berjalan sesuai fakta Salim, 200668. 27Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Penelitian ini tidak menjelaskan maupun mencari hubungan, tidak pula menguji hipotesis, atau membuat 200927 menyebutkan bahwa penelitian deskriptif menyajikan satu gambar yang terperinci tentang satu situasi khusus, setting sosial, atau penelitian Pengambangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia dan Pusat Kegiatan Masyarakat ini, sampel dan informan diambil dengan menggunakan tekni purposive sampling. Key informan yang dipilih adalah empat orang dari divisi comrel Holcim, yaitu Isnani Jana Bidari, Ninda Luhur, Kusno Hartoyo, dan Danny M. Goenawan; dan empat orang berasal dari pengurus PKM, yaitu Makruf, Rajut, Muhimah, dan dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data “model interaktif” dari Huberman dan Miles yang terdiri dari tiga hal utama, yaitu 1 reduksi data; 2 penyajian data; dan 3 penarikan kesimpulan/ veri hal teknik keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber. Tria-ngulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Peneliti memilih Yosal Iriantara yang merupakan pakar comrel dan comdev sebagai triangulator sumber dari penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASANHasil Penelitian1. Tahapan Perumusan Kebutuhan Ber-sama dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPada tahap ini, terdapat beberapa poin yang dilakukan oleh kemitraan ini, yaitu Meng-atasi perbedaan latar belakang, kebutuhan masing-masing pihak dan aktivitas perumusan mengatasi perbedaan latar belakang, perusahaan melakukan pendekatan infromal kepada masyarakat. Dari pendekatan inilah kemudian terbentuk Kelompok Perwakilan Desa KPD yang merupakan perwakilan dari enam desa ring 1. Terdapat enam desa, dan masing-masing desa mempunyai lima orang sebagai mempunyai kebutuhan untuk secure dan social license juga untuk memenuhi tanggungjawab sosialnya, sedangkan masyarakat mempunyai kebutuhan bukti nyata dan manfaat dari tanggung jawab sosial perusahaan. Untuk itu, perusahaan dan masyarakat lewat KPD membentuk Pusat Kegaitan Masyarakat PKM. Perusahaan mengusung konsep CBO atau Community Based Organization untuk mengem-bangkan masyarakat dan melakukan pendekatan dua arah. Pengurus PKM berasal dari KPD, yaitu dua orang perwakilan tiap desa di ring 1, sehingga jumlah pengurusnya ada 12 orang. PKM kemudian dijadikan mitra oleh perusahaan. Tugas awal PKM adalah untuk mengawal kegiatan CSR saja, seiring berjalannya waktu kemitraan dikembangkan dan sampailah tugas PKM kepada pengelolaan CSR. Oleh karena itu, PKM mempunyai kebutuhan pelatihan-pelatihan untuk mengasah kemampuannya dalam menghadapi perannya pada pengembangan kemitraan ini. Tujuan dikembangkan kemitraan ini adalah untuk community development agar masyarakat khususnya PKM bisa menjadi organisasi yang mandiri, yang kuat dari sisi kelembagaannya. Dalam merumuskan kebutuhan masya-rakat tiga aktivitas, yaitu pemetaan sosial social mapping oleh PKM lewat KPD, kemudian informasi yang didapat KPD dikoordinasikan dengan PKM untuk menentukan kebutuhan mana yang paling mendesak untuk diusulkan kepada Holcim. Setelah itu, PKM melakukan pertemuan dengan Holcim untuk membahas mengenai kebutuhan tersebut dengan melalui komunikasi formal regular meeting dan informal diskusi santai.2. Tahapan Pembentukan Landasan Ber-sama dan Visi Misi dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatLandasan bersama diperoleh melalui penggalian nilai-nilai yang menjadi dasar bagi HIL dan PKM. HIL dan PKM mempunyai nilai-nilai yang saling bersinergi yaitu kejujuran, keinginan untuk maju bersama dan melibatkan banyak pihak. Kemudian didapati landasan 28 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnabersama dari kedua pihak dalam menjalankan kemitraan ini adalah “Kebersamaan member-dayakan masyarakat sesuai kearifan lokal” seperti yang diungkapkan Danny“Landasan utama kemitraan adalah kebersa-maan untuk pemberdayaan masyarakat. Semua kemungkinan dan peluang diarahkan untuk keberdayaan masyarakat. Peran PKM kian penting, tidak saja dalam implementasi. Sejak berdirinya di tahun 2011, PKM terus berkarya memajukan kesejahteraan masyarakat mela-lui sikap keterbukaan, saling percaya, dan kebersamaan, baik dengan HIL maupun dengan kelompok masyarakat lainnya.”3 Dari landasan ini kemudian terbentuklah visi dari PKM yaitu “Membantu menyejahterakan masyarakat desa ring 1”. Penggalian nilai-nilai sebagai landasan selama ini terjadi pada saat pertemuan untuk pembahasan Balanced Business Plan BBP. Di dalam pertemuan ini pula terdapat aktivitas penggabungan antara informasi mengenai kebutuhan masyarakat dan visi misi untuk menjadi sebuah agenda kegiatan. Pembuatan BBP ini bertujuan agar PKM mempunyai susunan rencana kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam jangka waktu satu tahun, sehingga tidak hanya pihak Holcim saja yang memiliki inisiatif. Akhirnya ketika timbul inisiatif dari masyarakat, maka Holcim akan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dengan kebutuhan perusahaan. Selanjutnya kedua pihak menyepakati untuk melibatkan banyak pihak seperti pemerintah, konsultan/ organisasi lain, dan melibatkan banyak penerima Tahapan Penyusunan Agenda Kegiatan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatTahap ketiga pada pengembangan kemit-raan ini adalah penyusunan agenda kegiatan. Di dalam penyusunan agenda kegiatan ini terdapat pula aktivitas perancangan kerangka kerja. Penyusunan agenda kegiatan ini mencakup penyusunan tujuan, sasaran, dan objektif dari kegiatan dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas pembntukan road map untuk tiga tahun, dan menghasilkan BBP pada tahun pertama. Di dalam BBP ini kemudian disusun 3 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, Stakeholder Engagement Coordinator PT. Holcim Indoensia Tbk. Tuban Plant. Via E-mail. Selasa, 12 Januari 2016agenda-agenda kegiatan CSR yang akan dilaksanakan pada road map tahun pertama. “Jadi, dari situ kita kan bikin analisis SWOT. Itu kan nggak cuman analisis strength, weakness nya saja. Mereka yang nge-list semua. Akhirnya dari situ mereka membuat road map. Dari road map itu mereka akhirnya membuat BBP dengan agenda besarnya. Cuman, dalam perjalanan satu tahun pasti ada hal-hal insidental yang memang harus diselesaikan secara insidental pula.”4Dari program-program CSR berkelanjutan sebelumnya tidak terjadi perubahan agenda kegiatan, tetapi terdapat tambahan-tambahan program baru. Dalam penyusunan agenda kegiatan yang baru ini, program-program yang telah di list oleh PKM, kemudian di klasi tersebut adalah Community Development Program CDP, Community Social Responsibility CSR Project, Stakeholder Engagement Program SEP, Social Activity SA, danVarious PoultryVP. Program-program tersebut merupakan program-program yang sudah rutin dikerjakan dan sudah masuk kedalam proposal. Program-program tersebut adalah CSR yang melibatkan PKM dari proses inisiasi hingga evaluasi. Ada pula beberapa program CSR yang merupakan program berasal dari Surat Perintah Kerja SPK. Selanjutnya pada setiap agenda kegiatan terdapat perencanaan strategis seperti peren-canaan mengenai tujuan, objective, sasaran, analisis SWOT, strategi, timeline, anggaran dana dan rencana evaluasi, serta terdapat aktivitas pengorganisasian dan pembagian tugas dan peran untuk masing-masing Tahapan Penyampaian Rencana Aksi dan Evaluasi Kemitraan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPada tahap ini, PKM dan HIL menyam-paikan aksinya dengan memberikan layanan berupa kegaitan dan program CSR. PKM mempunyai peran sebagai pengelola kegiatan, di mana dalam tahap ini PKM bertugas untuk perencanaan dan persiapan teknis seperti masalah logistik, administrasi, kegiatan lobby, dan koordinasi. Sedangkan HIL mempunyai peran sebagai supervisi untuk membimbing 4 Wawancara kedua dengan Ninda Luhur, community relations ocer PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plan, di kantor comrelHolcim Tuban, 16 November 2015. 29Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia membina PKM agar menjalankan tugasnya sesuai dengan jalur dan rencana awal. Pada tahap ini terdapat pula aktivtias evaluasi program yang dilakukan oleh PKM. Evaluasi program tergantung pada programnya. Penyampaian aksi ini terjadi sesuai dengan kondisi, tak jarang bila dalam pelaksanaannya terdapat hambatan dan halangan yang mengharuskan kedua pihak untuk melakukan aktivitas diluar rencana sesuai dengan kebutuhan dan berjalan secara spontan. Untuk menjaga keberlangsungan kemitra-an kedua pihak melakukan hal-hal yang dianggap penting dan mempengaruhi kemitraan. Seperti untuk akuntabilitas dilakukan dengan melakukan aktivitas reporting dan invoice. Di dalam menjaga keterlibatan masing-masing pihak, keduanya menerapkan nilai kejujuran dan keterbukaan, serta menerapkan kebijakan dari eksekutif kemitraan yaitu menerapkan sustainibility program pada saat mengelola CSR. Sedangkan untuk evaluasi kemitraan ini kedua pihak dilakukan dalam dua cara yaitu formal melalui monitoring evaluating dan reporting untuk mingguan dan bulanan, serta cara informal yaitu lewat diskusi santai. “Kita punya progress report. Capaian progressnya, ada graknya. Sampai dimananya. Kadang Holcim kasih tau PKM seharusnya saat ini PKM berada di grak yang mana. Terus ternyata di sana ada kendalanya sehingga menghambat. Jadi kita selalu koordinasi. Kedua belah pihak punya andil untuk saling mengingatkan”55. Tahapan Penyusunan Strategi Peng-hentian Kemitraan Exit Stratgy dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatUntuk tahap penyusunan strategi peng-hentian kemitraan exit strategy, perusahaan menyebutnya dengan strategi keluar. “Lebih tepatnya adalah “strategi keluar”, atau “exit strategy”, bukan penghentian. Inti dari program CBO adalah memperkuat masyarakat lokal. Dengan ini, penghentian dan pengakhiran hanyalah periodisasi untuk menuju tahap berikutnya yang lebih bermanfaat.”6Penyusunan rencana exit strategy ini dilakukan dengan bertahap. Tahap awal adalah 5 Wawancara pertama dengan Zenuri, Bendahara I PKM, di Kantor PKM, 17 November 20156 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, stakeholder engagement coordinator PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant. Via E-Mail. 12 Januari 2016. dengan perencanaan dan persiapan. Pada tahap perencanaan ini Holcim merumuskan apa saja kegiatan yang akan dilakukan untuk mempersiapkan PKM untuk dilepaskan.“Exit strategy yang paling nyata dan perlu disiapkan, baik oleh PKM maupun HIL adalah proses pewarisan untuk generasi penerus. Perlu ada PKM pada generasi ber-ikutnya, tidak hanya terhenti dan berakhir di PKM generasi pertama ini. Jadi, ada dua tugas utama PKM dan HIL di masa kekinian yaitu 1 pengembangan diri PKM untuk mampu menjadi pembawa manfaat dan share value pada masyarakat luas, serta 2 persiapan pada generasi berikutnya.”7 Selanjutnya adalah tahap merencanakan kegiatan tindak lanjut. Tahap ini yang saat ini sedang dijalankan yaitu dengan pengem-bangan diri PKM untuk mampu menjadi pembawa manfaat dan share value pada masyarakat luas. Holcim sedikit demi sedikit menyerahkan tanggung jawab untuk mengelola kegiatan CSR kepada PKM agar setelah Holcim tidak beroperasi lagi di daerah tersebut, masyarakat lokal mendapatkan ilmu yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan mereka selanjutnya adalah persiapan untuk generasi selanjutnya. Strategi CBO tidak hanya berlaku pada generasi pertama ini, yang lantas berakhir dan menguap begitu saja, tetapi perlu terus berkembang dan melahirkan generasi berikutnya. Pada masa depan, melalui strategi CBO ini, tanpa ada Holcim di Tuban pun, masyarakat tetap bisa bertumbuh, berkembang, dan mencapai cita-cita kesejahteraan sebuah asa kemandirian yang perlu untuk tetap dipupuk. Pembahasan Penelitian1. Tahapan Perumusan Kebutuhan Ber-sama dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatMenurut Chriss Gribben dalam Rogovsky 200011, terdapat beberapa langkah dalam perumusan kebutuhan tersebut yaitu mengatasi perbedaan latar belakang, berkumpulnya pihak yang bermitra untuk merumuskan kebutuhan bersama, dan melakukan pelatihan-pelatihan 7 Wawancara pertama dengan Danny Goenawan, stakeholder engagement coordinator PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant. Via E-Mail. 12 Januari 2016. 30 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatnasebagai salah satu bentuk kebutuhan bersama. Rogovsky 200010, juga mengatakan bahwa ada beberapa hal yang bisa membuat kemitraan berjalan sukses adalah memperlakukan pihak yang bermitra sebagai kesempatan untuk mengizinkan orang-orang dengan latarbelakang yang berbeda untuk belajar satu sama lain, dan dari tekanan dan paksaan yang berbeda mereka menghadapi sektor mereka. Kemitraan yang sering terjadi di Indonesia adalah kemitraan antara usaha besar dan usaha kecil atau kemitraan yang tujuannya adalah bisnis. Tetapi yang terjadi dalam kemitraan antara PT. Holcim Indonesia Tbk dan PKM adalah kemitraan antara organisasi bisnis dan komunitas yang bertujuan untuk kemaslahatan bersama bukan sekedar mencari bersama sama mengatasi perbe-daan latar belakang, kemudian membentuk sebuah kemitraan, langkah selanjutnya dalam mengembangkan model kemitraan tersebut adalah merumuskan kebutuhan bersama. Ife & Tesoriero 2008 151 mengatakan bahwa “Kebutuhan tidak bersifat obyektif dan juga tidak bebas nilai. Maksudnya kebutuhan harus dimengerti dari suatu perspektif yang mempertimbangkan nilai dan ideologi, dan yang memungkinkan gagasan-gagasan pem-bebasan ketimbang opresi.”Salah satu kebutuhan penting adalah peng-adaan pelatihan-pelatihan untuk membangun kemampuan-kemampuan pihak-pihak yang bermitra agar bisa beroperasi secara efektif.“Pelatihan merupakan peran edukatif yang paling spesik, karena hal tersebut melibatkan bagaimana mengajarkan pen-duduk untuk melakukan sesuatu” Ife & Tesoriero 2008590.Sebagai proses pendidikan, kegiatan pemberdayaan masyarakat banyak sekali dilakukan melalui pelaksanaan pelatihan-pelatihan. Mardikanto & Soebiato 2012204 menyebutkan bahwa setiap kegiatan pember-dayaan masayarakat harus mengacu pada kebutuhan yang sedang dirasakannya dan harus bisa memberikan manfaat untuk kebutuhan tersebut. Oleh karena itu, pelaksanaan pember-dayaan masyarakat harus diawali dengan pencarian pendidikan yang dibutuhkan serta analisis kebutuhan. 2. Tahapan Pembentukan Landasan Ber-sama dan Visi Misi dalam Pengem-bangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatLandasan bersama yang digunakan dalam kemitraan ini mengarah kepada kearifan lokal masyarakat di mana di dalamnya terdapat pula nilai-nilai yang dijunjung pula oleh PKM. Seperti yang diungkapkan Ife & Tesoreiero dalam bukunya Community Development, sebuah pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh sebuah perusahaan memerlukan gagasan perubahan bottom-up, termasuk di antaranya berkaitan dengan kearifan lokal seputar gagasan menghargai pengetahuan lokal, kebudayaan lokal, sumber daya lokal, keterampilan lokal, dan proses lokal. Setelah landasan terbentuk, secara otomatis akan terlihat visi dan misi dalam kemitraan. Visi misi yang digunakan adalah visi misi PKM, di mana visinya yaitu mensejahterakan masyarakat Ring 1’. Visi adalah sebuah landasan losos operasional sebuan entitas, tetapi dengan tidak memandang jenis entitasnya. Sebagai landasan losos, visi menjadi core value satu aktivitas sehingga menjiwai sebagai bentuk aktivitas yang menjadi entitas organisasi Hadi, 2009124. Bagaimana mereka membentuk landasan tersebut terjadi saat pembuatan Balance Business Plan BBP.Business Plan dalam web 2013 adalah “A written document describing the nature of the business, the sales and marketing strategy, and the nancial background, and containing a projected prot and loss statement. A business pkan is also a road map that provides directions so a business can plan its future and helps it avoid bumps in the road”Dalam pembuatan BBP tersebut, PKM mempelajari bagaimana cara merancang sebuah program dengan langkah-langkah yang tepat. Sehingga, selain mempunyai pengetahuan tentang kebutuhan-kebutuhan, mereka juga mempunyai cara untuk memenuhinya, dan hal ini didapatkan dari sharing-skill dengan Holcim untuk perencanaan dan eksekusi program CSR yang baik. 31Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia Tahapan Penyusunan Agenda Kegiatan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatPenyusunan agenda kegiatan sama halnya dengan perencanaan agenda kegiatan. Menurut Mardikanto & Soebiato 2012235, perencanaan dimaknai sebagai “Suatu proses pengambilan keputusan yang berdasarkan fakta, mengenai kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan demi tercapainya tujuan yang diharapkan.”Setelah menemukan informasi mengenai kebutuhan kedua pihak dan memadukannya dengan visi misi, maka PKM dibimbing Holcim merencanakan agenda kegiatan yang berupa program atau kegiatan CSR dengan perencanaan strategis, perencanaan community relationsyang diintegrasikan dengan konsep Business Plan. Mardikato & Soebiato 2012 259 dalam bukunya menjelaskan bahwa sebuah perumusan harus selalu memperhatikan “Strengths yaitu kekuatan/ potensi yang dimiliki, weakness yaitu kelemahan atau kendala yang akan dihadapi, opportunities yaitu peluang/ kesempatan yang tersedia, dan threats yaitu ancaman/ resiko yang harus di hadapi. Analisis tersebut dikenal dengan analisis SWOT.”Hal-hal diatas memang telah di susun oleh PKM, tetapi bedanya adalah PKM tidak memasukkan hal-hal yang bersifat pemasaran. Kemitraan berjalan untuk mengelola kegiatan CSR perusahaan, sehingga tahap perencanaan ini bisa juga mengadopsi konsep perencanaan CSR. Menurut Putri dalam Untung, 20081, “Corporate Social Responsibility adalah komitmen dari perusahaan atau organisasi bisnis untuk berkontribusi dalam pengem-bangan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan tanggungjawab sosial per-usahaan dan menitik beratkan pada keseim-bangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis, sosial dan lingkungan.”Melihat denisi seperti ini, Holcim Tuban merasa bertanggungjawab atas segala dampak yang ditimbulkan kegiatan produksi pabrik. Oleh karena itu, CSR ini dijalankan PKM dan Holcim untuk sebagai bentuk tanggungjawab dan komitmen perusahaan kepada lingkungan sekitar dengan memperhatikan aspek sosial dan Tahapan Penyampaian Rencana Aksi dan Evaluasi Kemitraan dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatKemitraan menyampaikan rencana aksi, baik berupa pemberian layanan atau beberapa fungsi lain. Layanan tersebut dapat diketegorikan dengan pola charity, social activity, dan community development Hadi, 2009145.Berdasarkan metode PRA Chambers dalam Cooke and Kothari, 200175 menyata-kan bahwa PRA adalah pendekatan dengan metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk meningkatkan dan menganalisis penge-tahuan mereka mengenai hidup agar mereka bisa membuat rencana dan tindakan. Bagaimana PKM ikut melaksanakan program CSR adalah bentuk dari metode tersebut. Setelah mereka membuat rencana atas kebutuhan mereka, kemudian mereka melakukan tindakan yang didasarkan pada rencana tersebut. Setelah menganalisis kebutuhan tersebut, PKM kemudian merencanakan program-program sebagai CSR Crowther David dalam Hadi, 200959, acoountability adalah upaya perusahaan terbuka dan bertanggungjawab atas aktivitas yang telah dilakukan. Akuntabilitas dibuthkan, ketika aktivitas perusahaan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungan eksternal. Konsep ini menjelaskan pengaruh kuan-titatif perusahaan terhadap pihak internal dan eksternal. Akuntabilitas bisa digunakan sebagai media perusahaan membangun image dan network terhadap stakeholder. Dalam pene-rapan akuntabilitas dan transparansi, terdapat beberapa aspek yang terlihat di kemitraan ini yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kedua pihak dalam kemitraan ini sangat memegang teguh nilai kejujuran dan saling percaya. Nilai ini akan dapat terwujudkan dengan adanya saling keterbukaan. Hal itu dilakukan dengan tetap menjalin koordinasi sebagai progress report, baik itu bersifat informal biasanya dengan jenis data kualitatif maupun dengan pertemuan formal yang kebanyakan datanya bersifat kuantitatif. PKM dan Holcim mengadakan progress report setiap minggu dan setiap bulan dengan berbekal grak pencapaian. Tahap ini juga membahas bagaimana evaluasi terhadap kemitraan yang di dalamnya terdapa proses menilai, mengevaluasi, dan menyempurnakan operasi kemitraan. 32 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. PriyatnaDalam mengevaluasi kemitraan, HIL menjadikan konsep kemitraan yang sukses menurut Gribben sebagai tolok ukur keber-hasilan kemitraan yang dijalankan, yaituBerdasarkan karakteristik di atas, HIL dan PKM telah memenuhi beberapa poin. Seperti agenda bisnis yang jelas, goals sejalan dengan objectives, saling menghargai dan keinginan saling belajar, keinginan untuk berubah, hubungan yang terbuka dan jujur, bekerja secara eksibel, melakukan komunikasi secara terus menerus, berakar pada komunitas, serta terhubung dengan organisasi Tahapan Penyusunan Strategi Peng-hentian Kemitraan Exit Stratgy dalam Pengembangan Model Kemitraan PT. Holcim Indonesia Tbk. Tuban Plant dan Pusat Kegiatan MasyarakatDenisi exit strategy dalam wirausaha dan manajemen strategi menurut web Ciputra Enterpreneurship adalah“Penarikan diri yang terencana dari sebuah perusahaan, atau cara tertentu untuk memin-dahkan kepemilikan seseorang/ pihak tertentu sebuah perusahaan atau operasional sebagian perusahaan.” Subiyanto mengutip pernyataan Rogers dan Macias bahwa ada tiga jenis strategi pengakhiran suatu program, yaitu phase down fase penurunan, phase over fase pengalihan, dan phase out fase penghentian.Holcim menganggap bahwa exit strategy dalam kemitraan ini merupakan penarikan diri yang terencana dari PT. Holcim Indonesia Tbk Tuban Plant dan kemudian memindahkan kekuasaan operasional kemitraan seutuhnya kepada AWAL KEMITRAAN MODEL KEMITRAAN SETELAH DIKEMBANGKAN 33Model Kemitraan Pt. Holcim Indonesia kedua model di atas, terdapat beberapa perbedaan yang cukup signikan antara. Pada model awal kemitraan Holcim mempunyai peran dalam seluruh proses pengelolaan kegiatan CSR, sedangkan PKM hanya melaksanakan beberapa tahapan saja, seperti proses pemahaman kondisi desa yaitu, PKM juga hanya terlibat sebatas kehadirannya pada hari pelaksanaan kegiatan CSR. Kemudian pada proses evaluasi, PKM mempunyai peran sebatas mengevaluasi masalah eksternal seperti yang berhubungan dengan adat, dan karakteristik masyarakat sekitar. Sedangkan pada model kemitraan yang baru, HIL dan PKM bekerja berdampingan untuk mengelola program dan kegiatan CSR. Holcim mempunyai peran sebagai supervisi untuk PKM sebagai pengelola CSR. PKM dilibatkan dalam setiap proses pengelolaan CSR. Pada proses pengelolaan kali ini juga lebih kompleks kegiatan-kegiatan yang ada di Tahapan Perumusan Kebutuhan Bersama telah dilakukan dengan, mengatasi latar belakang. Kebutuhan dari kedua pihak, yaitu perusahaan mendapat social license dari masyarakat, masyarakat mendapatkan manfaat dari tanggungjawab perusahaan. Setelah itu dibentuk PKM, dijadikan mitra, dan kemitraan dikembangkan. Kemudian terdapat aktivitas perumusan kebutuhan masyarakat. Pelatihan-pelatihan juga sudah dilakukan sebagai kebutuhan untuk mem-bangun kemampuan dari PKM. Hanya saja masih minim pelatihan mengenai pengelolaan CSR yang diadakan Tahap kedua adalah pembentukan landasan bersama dan visi misi juga telah dilakukan oleh Holcim dan PKM dengan menggali nilai-nilai yang menjadi landasan bersama sehingga diperoleh landasan bersama berupa kebersamaan untuk memberdayakan masyarakat sesuai kearifan lokal. Sedangkan visinya adalah Membantu menyejahterakan masyarakat desa ring 1. Kemudian mereka menyatukan informasi mengenai kebutuh-an bersama dengan visi misi untuk perencanaan agenda kegiatan. Hanya saja dalam pertemuan ini mereka belum mengkuantikasikan ukuran tindakan yang mereka usulkan untuk Tahap selanjutnya adalah penyusunan agenda bersama. PKM dibantu Holcim menghasilkan sebuah Road Map dan Balance Business Planning yang berisi tentang rencana program atau kegiatan untuk jangka waktu tiga dan satu tahun kedepan. Terdapat dua jenis agenda, yaitu yang termakhtub dalam proposal dan berdasarkan Surat Perintah Kerja SPK. Masing-masing personil Holcim dan PKM mempunyai tanggungjawab untuk setiap program yang direncanakan sebagai bentuk pengorganisasian. 4. Pada tahapan penyampaian rencana aksi dan evaluasi kemitraan terdapat beberapa langkah yang sudah dilaksanakan oleh kemitraan ini, seperti implementasi program-program CSR yang direncanakan berupa pemberian layanan, dan proses mempertahankan keter-libatan pihak-pihak yang bermitra. Pada tahap penyampaian rencana aksi atau eksekusi dilakukan oleh PKM dengan pengawasan Holcim. Saat melaksanakan program CSR, Holcim sebagai eksekutif kemitraan sudah mempunyai kebijakan yang dirumuskan yaitu keberlanjutan program. Evaluasi kemitraan dijalankan dalam dua bentuk, yaitu pertemuan formal dan Tahap exit strategy atau strategi penghentian dilakukan pada tiga tahap, yaitu dengan tahap perencanaan dan persiapan yang dilakukan dengan kegiatan persiapan untuk pelepasan PKM, perencanaan tindak lanjut dan persiapan generasi Untuk perusahaan, pada tahap perumusan kebutuhan terdapat kebutuhan pelatihan untuk PKM. Sebaiknya dilakukan lagi pelatihan pengelolaan CSR untuk Pada tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi, terdapat aktivitas yang belum dilakukan yaitu adalah mengkuantikasikan tindakan yang diusulkan untuk dijalankan. Oleh karena itu, perusahaan lebih baik memberikan pengarahan kepada PKM untuk membuat kuantikasi dari data mengenai kebutuhan Tahap penyusunan agenda untuk perusaha-an adalah mengadakan secara berkala pertemuan dengan PKM untuk membahas inisiasi program yang berasal dari PKM, missal tiap bulan. 34 Efrin Umma, Hanny Haar, Centurion C. Priyatna4. Tahap penyampaian rencana aksi dan evaluasi, perusahaan bisa menggunakan audit komunikasi sebagai cara untuk meng-evaluasi Tahap penyusunan exit strategy, sebaiknya segera ditentukan kapan dimatangkan konsep phase down, phase over, atau phase Untuk PKM, tahap perumusan kebutuhan bersama, pelatihan merupakan kebutuhan PKM sehingga sebaiknya mengikuti semua pelatihan-pelatihan mengenai pengelolaan Untuk PKM, tahap pembentukan landasan bersama dan visi misi, PKM sebaiknya membuat table kuantikasi untuk tindakan yang akan diusulkan pada Untuk PKM, pada tahap penyusunan agenda kegiatan sebaiknya lebih memaksimalkan ide untuk inisiasi program lewat perencanaan strategis yang Untuk PKM, pada tahap penysunan exit strategy, sebaiknya ikut aktif menentukan strategi apa yang cocok untuk kemitraan ini, sehingga tidak bergantung pada PUSTAKABisnis UKM. 2013. Exit Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda. Bisnis Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Bill & Kothari, Uma. 2001. Participation The New Tyranny?. London Zed BooksIfe, Jim & Tesoriero, Frank. 2008. Community Development. Yogyakarta Pustaka PelajarIriantara, Yosal. 2010. Community Relations. Konsep dan Aplikasinya. Bandung Simbiosa Rekatama Totok & Soebiato, Poerwoko. 2012. Pemberdayaan Masyarakat. Bandung AlfabetaRogovsky, Nikolai. 2000. Corporate Community Involvement Programmes Partnerships for Jobs and Development. Subiyantoro, Agus. 6/12/2013. Phase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit Strategy?. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Program Peningkatan Kualitas Pemukiman. Diakses pada 18 Desember 2015, pukul Amin Widjadja. 2007. Corporate Social Responsibility CSR. Jakarta Harvarindo ... Sesungguhnya, evaluasi program tergantung pada programnya. Sebab, mengacu pada hasil riset "tak jarang bila dalam pelaksanaan program terdapat hambatan dan halangan yang mengharuskan untuk melakukan aktivitas di luar rencana, disesuaikan dengan kebutuhan dan berjalan secara spontan Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Mellia AgustiyaniHanny Hafiar Evi NoviantiABSTRAK Bank Indonesia merupakan lembaga independen yang mewajibkan untuk mensosialisasikan ciri keaslian uang rupiah atau sosialisasi CIKUR “Ciri-ciri Keaslian Uang Rupiah”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fase dari model of small group socialization di Bank Indonesia KPw Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan data kualitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa Asisten Manajer I Bank Indonesia KPw Jawa Barat yang berperan sebagai pengawas serta pelaksana sosialisasi CIKUR mulai dari fase pendahuluan, fase antisipasi, fase pertemuan, fase asimilasi, dan fase keluar. Pada fase pendahuluan, fase asimilasi, dan fase keluar, analisis demografi, identifikasi kelompok, evaluasi dan apresiasi yang dilakukan belum optimal. Dari hasil penelitian ini, saran yang diberikan adalah lembaga sebaiknya melakukan analisis demografi secara spesifik yaitu usia, ras dan gender, identifikasi kelompok evaluasi dan apresiasi agar tujuan utama sosialisasi dapat tercapai.... Education to increase environmental awareness is an effort that must be done by involving the community in its development. Community development can be done to gather bottom-up ideas of change, including those related to local wisdom around ideas which value local knowledge, local culture, local resources, local skills, and local processes [5]. Moving the community so they are willing to play an active role in environmental conservation is a social responsibility that must be carried out together. ...... Holcim Indonesia Tbk. Pembentukan tim untuk pelaksanaan kampanye Belkaga tidak lagi dilakukan seleksi khusus sebab seluruh divisi yang berkaitan dengan penyelenggaraan porgram sudah otomatis menjalankan tugas sesuai bagiannya masingmasing Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. Selanjutnya dilakukan pelatihan terhadap petugas, khususnya petugas Filariasis yang ada di Puskesmas dan juga petugas kader kesehatan, sebab mereka adalah orang yang bertanggung jawab langsung menangani pos pengobatan pada saat pelaksanaan POPMF. ...Seftia Rahmaning TyasHanny HafiarAnwar SaniPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses prakampanye, proses pengelolaan kampanye, dan hasil evaluasi kampanye oleh Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan konsep manajemen kampanye oleh Antar Venus yang dikembangkan berdasarkan Model Kampanye Ostergaard. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, teknik dokumen, studi kepustakaan, dan angket menggunakan teknik pengumpulan informan dengan purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif, sedangkan teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa proses kampanye Belkaga dibagi dalam tiga tahap yaitu prakampanye, pengelolaan kampanye, dan evaluasi kampanye. Hasil prakampanye menyatakan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang merupakan daerah endemis dan belum melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis POPMF. Hasil pengelolaan menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan RI tidak melakukan identifikasi segmentasi sasaran berdasarkan klasifikasi warga yang sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan yang disampaikan dibuat sama rata. Selain itu, penyebaran informasi yang kurang jelas mengakibatkan pesan yang diterima khalayak tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan komunikator. Kesimpulannya, masalah kampanye Belkaga timbul karena manajemen kampanye yang kurang efektif oleh Kementerian Kesehatan RI. Peneliti menyarankan agar Kementerian Kesehatan RI menyesuaikan pesan berdasarkan klasifikasi warga sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan tepat sasaran, mengoptimalkan media yang digunakan, memberikan pelatihan penyampaian informasi kepada kader kesehatan.... Intinya, pemilihan bahasa ini merupakan salah satu upaya pemberdayaan, adapun "proses pemberdayaan masyarakat membutuhkan upaya untuk mengenali potensi dan kemampuan, mencari alternatif peluang dan pemecahan masalah serta mampu mengambil keputusan untuk memanfaatkan sumberdaya secara efisien dan berkelanjutan sehingga tercapai kemandirian" Agustini, Budiono, Saepudin, & Silvana, 2015. Hal ini juga selaras dengan pernyataan Iriantara 2010173 bahwa "pengembangan masyarakat pada dasarnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat melalui kemampuan dan potensi yang dimiliki masyarakat tersebut" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016 ...Gilang GumelarHanny Hafiar Priyo SubektiThis research try to investigate the using of language by deaf. The theory used in thisresearch is the theory of Phenomenology Schutz. This research used constructivismparadigm with Phenomenology as the kind of research. Data collection techniques thatused are in-depth interviews, participatory observation, and the study of librarianship,the collecting techniques of key informants by snowball sampling. While the dataanalysis techniques using three stages, the first is reduction, the second is rendering,and the third is the withdrawal of the conclusion. Validity of data uses triangulationtechniques sources and triangulation techniques. The results of this research showthat the meaning of Bisindo as Deaf Culture for the informants who are the memberof DPC Gerkatin Jawa Barat, is categorized as affirmative meaning. The meaning of theaffirmative that is owned by the informants is when the informants consider that Bisindoas Deaf Culture, is an interest and pride. The study also found motifs belonging to theinformants in lifting the existence of Bisindo as Deaf Culture, not only the cause-motifbut also the purpose-motif. The informant’s experience, include the early experience inhow they get interest to Bisindo, the experience of using Bisindo, and the experienceto raise the existence of Bisindo as Deaf Culture that finally those communicationexperiences affect the way informants in conducting follow-up. Penelitian ini mengkaji tentang bahasa yang digunakan kaum tuli. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi Schutz. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis penelitian fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi kepustakaan, dengan teknik pengumpulan key informant dengan cara snowball sampling. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga tahap, yaitu reduksi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa makna Bisindo sebagai Budaya Tuli bagi para informan yang merupakan anggota Gerkatin DPC Jawa Barat dikategorikan sebagai makna afirmatif. Makna-makna afirmatif yang dimiliki para informan adalah ketika informan menganggap Bisindo sebagai Budaya Tuli adalah sebuah kepentingan dan kebanggaan. Penelitian ini juga menemukan motif-motif yang dimiliki informan dalam mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli, baik itu motif sebab atau motif tujuan. Adapun pengalaman yang dimiliki informan, meliputi pengalaman awal ketertarikan pada Bisindo, pengalaman menggunakan Bisindo, dan pengalaman mengangkat eksistensi Bisindo sebagai Budaya Tuli yang akhirnya pengalaman komunikasi tersebut mempengaruhi cara informan dalam melakukan tindak lanjut... Pranata sosial dapat memperlancar penggiat lingkungan untuk melakukan proses mengumpulkan, menganalisis, dan mendistribusikan informasi penanggulangan bencana banjir yang dikemas dalam format pendidikan penangguangan bencana banjir, sehingga dapat membangun pemahaman, sikap dan partisipasi masyarakat di wilayah tersebut. Adapun partisipasi dan posisi organisasi di dalam sebuah komunitas melalui berbagai upaya untuk kemaslahatan bersama merupakan hal penting dalam menjalin hubungan kemasyarakatan Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Iriana BaktiHanny HafiarHeru Riyanto Budiana Lilis PuspitasariThe study is titled implementation of environmental communication based on the social institution in coping with the flood in the Citarum Watershed Upstream. Citarum river pollution and silting are currently in a state of particular caused by forest encroachment in the upstream, land use, household waste, animal husbandry, industry, offices, etc, so when the rainy season caused the occurrence of floods. In addition, these conditions have resulted in water quality being unfit to be utilized, both for drinking water, washing, bathing, irrigation for agriculture and so on. The actuator environment seeks to restore the Citarum Watershed upstream conditions by building public awareness so they may want to change their attitudes and behavior, one of them by not disposing of waste into the river. The selected communities are those that are incorporated in a social institution in the region. The purpose of the research is to find out about the types of institution, the reason for utilizing the institution, and the role of the environment actuator communication in a social institution. The methods used in this research is descriptive with qualitative data to describe the various realities of communication activities related to the environment by leveraging social institution in coping with the disaster of the flood in the area of Citarum Watershed Upstream. Research results showed in the region there are four types of institutions, namely the institution of religious, economic, agricultural and social. Institution related to religious activity is Majlis Ta'lim the place of informal Islamic teaching and education, institution related to the activity of the economy is an arisan regular social gathering, institution related to social activity is the PKK Family Welfare Guidance, and institution related to the agricultural activity is The Association of Farmers Group Gapoktan. The reason for the environment actuator utilizing social institution are as the entrance access to carry out flood mitigation program, already familiar, easy to invited to cooperate and to expand the network. The role of the environment actuator in the institution as a communicator and facilitator in conducting dissemination of information and training of waste utilization to the members of the institutions.... Kegiatan ini juga merupakan kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama dengan berbagai pihak. Pada initinya mengacu pada hasil riset dinyatakan bahwa "ada beberapa hal yang bisa membuat kemitraan berjalan sukses adalah memperlakukan pihak yang bermitra sebagai kesempatan untuk mengizinkan orang-orang dengan latarbelakang yang berbeda untuk belajar satu sama lain" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ...Sherly AmaliaHanny HafiarHeru Riyanto BudianaThe workshop was organized by West Java’s Industry and Trade Service Disperindag in collaboration with Universitas Padjadjaran with purpose to produce new entrepreneurs. This research aims to discover the extent of the correlation between the workshop and the participants attitude toward entrepreneurship. Theory used in this research is ELM Theory by Richard E. Petty and John T. Cacioppo. This study uses quantitative method. Researcher used Random Sampling, in the population of the participants from the Batch 27 and 28, resulting 65 samples. Based on the recapitulation of the result of correlation and discussion, the result of this research showed that there was a significant correlation between the perception of workshop and the participants attitude toward entrepreneurship. The result indicates that the programs of this workshop significantly affected participant’s will to start becoming entrepreneurs.... Bagi pengkaji budaya Indonesia, khususnya Jawa, menunjuk dengan ibu jari adalah simbol penghormatan dan menunjuk dengan telunjuk dianggap tidak sopan Fox, dalam Kompasiana, 201469. Evaluasi kegiatan komunikasi dalam bentuk apapun, seharusnya melibatkan faktor budaya, hal ini sesuai dengan pernyataan "melakukan evalusasi terhadap CSR dilihat dari aspek budaya dan karakter masyarakat" Nassaluka, Hafiar, & Priyatna, 2016. ... Muhammad Wildan YusraHanny HafiarDiah Fatma SjoraidaThis study uses qualitative methods with semiotics analysis from Charles Sanders Peirce. The purposes of this study are to determine the symbol contained in MBM Tempo, the meaning contained within the symbol, and how these symbols constructing Rizal Ramli’s Image as the howling. The result of this study showed MBM Tempo Jakarta cover “The Fighter or The Howling” 24-30 August 2015 Edition consist of three main symbols, Rizal Ramli’s on his hips, pointing and opened mouth, a hand hold puppet stick, and text symbol. Rizal Ramli’s caricature in the cover of MBM Tempo is an illustration of the text is written in the middle of Tempo’s cover, so that both are interlocked. These symbols have different meanings. The meaning of each symbol constructing the image of Rizal Ramli as the howling in the cover of MBM Tempo. The conclusion of this study showed that the symbols MBM Tempo Jakarta cover “The Fighter or The Howling” 24-30 August 2015 Edition consist of three main symbols, Rizal Ramli’s on his hips, pointing and opened mouth, a hand hold puppet stick, and text symbol included to typography. Abstrak Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis semiotika Charles Sanders Peirce. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol yang terdapat dalam MBM Tempo, makna yang terkandung dalam simbol-simbol, dan simbol pada MBM Tempo dapat mengkonstruksi citra Rizal Ramli sebagai Peraung. Hasil penelitian menunjukkan sampul MBM Tempo Jakarta “Rizal Ramli Petarung atau Peraung” Edisi 24-30 Agustus 2015 terdiri dari tiga simbol utama, simbol gesture Rizal Ramli sedang berkacak pinggang, menunjuk dan mulut terbuka, simbol tangan wayang yang memegang tuding, dan simbol teks. Karikatur Rizal Ramli yang terdapat dalam sampul MBM Tempo merupakan ilustrasi dari teks yang tertulis ditengah sampul Tempo, sehingga keduanya saling berkaitan. Simbol-simbol tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Makna yang terkandung dari setiap simbol mengkonstruksikan citra Rizal Ramli sebagai Peraung dalam sampul MBM Tempo. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat tiga simbol utama dalam sampul MBM Tempo Jakarta “Rizal Ramli Petarung atau Peraung” Edisi 24-30 Agustus 2015, yaitu simbol gesture Rizal Ramli sedang berkacak pinggang, menunjuk, dan mulut terbuka, simbol tangan wayang yang memegang tuding, dan simbol teks yang termasuk Indonesia is a company engaged in the field of agribusiness knew that employee relationship becomes important thing for the progress of the company. This study aims to determine the process of employee relationship management in PT Kemfarm Indonesia. The method used is descriptive with qualitative data. The research data was collected by observation, structured interview and literature study. The results show that HRD PT Kemfarm Indonesia acts as an internal PR managed relationships between companies, from processes, organizing, monitoring, evaluation and development program. In the process of planning, organizing, and program evaluation, the communications channel has not been optimal. From the results of this study, the suggestions provided are companies that do mapping the situation specifically on the process of planning, organizing and evaluation by using an effective communication channel on every program implementation so that the main goal of the program can be Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Participation The New Tyranny?Ukm BisnisBisnis UKM. 2013. Exit Stretegy Untuk Mengembangkan Bisnis Anda. Bisnis Diakses pada 4 Januari 2015 pukul Cooke, Bill & Kothari, Uma. 2001. Participation The New Tyranny?. London Zed BooksPhase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit StrategyAgus SubiyantoroSubiyantoro, Agus. 6/12/2013. Phase down, Phase Over atau Phase Out sebagai Exit Strategy?. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Program Peningkatan Kualitas Social Responsibility CSRAmin TunggalWidjadjaTunggal, Amin Widjadja. 2007. Corporate Social Responsibility CSR. Jakarta HarvarindoPemberdayaan Masyarakat. Bandung Alfabeta RogovskyMardikantoPoerwoko SoebiatoMardikanto, Totok & Soebiato, Poerwoko. 2012. Pemberdayaan Masyarakat. Bandung Alfabeta Rogovsky, Nikolai. 2000. Corporate Community Involvement Programmes Partnerships for Jobs and Development. Apakah artinya orang lain sebagai mitra kerja kita? 1. Apakah artinya orang lain sebagai mitra kerja kita? 2. apakah kemitraan boleh dilakukan antara perusahaan dengan perorangan? 3. orang yang menghubungkan Mitra dengan Allah disebut​ 4. tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara -rata. X menginvestasikan dolar. Y sebesar dolar dan z sebesar 2000 dolar. jika keuntungan mencapai 1500 dolar, lebih kurang berapa yang akan diperoleh X, jika keuntungan dibagi? 5. tiga mitra KTT Asean plus three meliputi​ 6. Mitra membeli 6bungkus bahan minuman setiap bungkus dapat di buat 6 gelas mitra menyajikan 2gelas untuk setiap orang temanya berapa gelas minuman yang tersisa jika temanya yang databg ada 16 orang? 7. Wilayah merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. wilayah suatu negara meliputi wilayah laut, darat, dan udara. jelaskan ketiga mitra tersebut dengan batas - batasnya? 8. Tuliskan tiga hal yang kamu dapat lakukan di lingkungan rumah sebagai mitra kerja Allah memelihara alam ciptaan-Nya​ 9. Sebutkan dan jelaskan alasan terbentuknya kemitraan strategi global. 10. Kemitraan antara pemerintah dan pers antara lain terwujud dalam bentuk 11. Tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginvestasi dolar y sebesar dolar .jika keuntungan mencapai yang akan di peroleh x jika keuntungan di bagi berdasarkan investasi ? 12. Apa perbedaan perusahaan kemitraan umum dan kemitraan terbatas? 13. Tuliskan setidaknya tiga organisasi regional lain yang menjadi mitra ASEAN 14. Salah satu keputusan penting pertama yang dihadapi seorang wirausahawan adalah memilih bentuk kepemilikan bisnis antara lain meliputi, perusahaan perorangan, usaha kemitraan partnership, mitra komanditer limited partner, perseroan corporation, jelaskan mengapa sangat penting untuk membuat pilihan yang benar sejak awal? 15. Perbedaan mitra hulu dan mitra hilir serta contohnya 16. contoh bentuk kemitraan usaha dalam pasar input?​ 17. jathayu mitra prabu dasarasta apa arti mitra..? 18. Tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginvestasi dolar y sebesar dolar .jika keuntungan mencapai yang akan di peroleh x jika keuntungan di bagi berdasarkan investasi ? 19. mengapa mitra usaha dibentuk sebagai organisasi 20. organisasi mitra sekolah yg beranggotakan para orang tua adalah 1. Apakah artinya orang lain sebagai mitra kerja kita? Arti orang lain sebagai mitra kerja kita adalah orang lain tersebut berkedudukan sebagai rekan atau pasangan kerja, teman kerja ataupun partner menjalankan suatu usaha di mana kedudukan kita dengannya sama. Mitra kerja ini harus dibedakan dari karyawan sebab karyawan kedudukannya sebagai pekerja kita yang memiliki tugas tertentu dalam menjalankan operasional Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, mitra kerja diartikan sebagai mitra kita dalam mengadakan suatu pekerjaan. Mitra sendiri oleh KBBI disebutkan sebagai sahabat, teman, pasangan kerja, rekan, kawan kerja dan lain sebagainya. Mitra kerja sama dengan mitra binis, yakni partner dalam mengadakan suatu usaha. Pelajari Lebih LanjutPelajari lebih lanjut tentang materi apa yang dimaksud dengan mitra usaha pada link berikut 2. apakah kemitraan boleh dilakukan antara perusahaan dengan perorangan? Boleh sebab pada biasanya banyak kemitraan yang melakukan kerja sama antar perusahaan dan perorangan mungkin mereka melakukan hal tsb agar terjalin kerja sama yg lebih baik lagi dalam memberi pendapat/ membantu >_ 2 x 16 = 32 ==>> 36 - 32 = 4 gelas . 7. Wilayah merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. wilayah suatu negara meliputi wilayah laut, darat, dan udara. jelaskan ketiga mitra tersebut dengan batas - batasnya? JawabanIndonesia merupakah salah satu negara yang punya wilayah cukup luas. Luas wilayah itu mencakup daratan dan pada perjanjian internasional tiap negara memiliki wilayah tertentu dengan wilayah Indonesia dibagi menjadi tiga bagian, yakni daratan, lautan, dan berdasarkan pada ketentuan pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang UU Nomor 43 Tahun 2008. Wilayah Negara Kesatuan Indonesia yang selanjutnya disebut wilayah negara adalah salah satu unsur negara yang merupakan salah satu kesatuan wilayah pedalaman, perairan kepulauan, dan laut teritorial beserta dasar laut dan tanah dibawahnya, serta ruang udara diatasnyas termasuk seluruh sumber kekayaan yang terkandung membantu maap kalau salah 8. Tuliskan tiga hal yang kamu dapat lakukan di lingkungan rumah sebagai mitra kerja Allah memelihara alam ciptaan-Nya​ Jawabanmenanam pohon dan tidak menebang / membakarJawaban1. membersihkan rumah2. tidak membuang sampah sembarangan3. merawat tanamanPenjelasan 9. Sebutkan dan jelaskan alasan terbentuknya kemitraan strategi global. PenjelasanKemitraan Usaha adalah jalinan kerja sama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/besar Perusahaan Mitra disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar, sehingga saling memerlukan, menguntungkan dan memperkuat. Kemitraan hanya dapat berlangsung secara efektif dan berkesinambungan jika kemitraan dijalankan dalam kerangka berfikir pembangunan ekonomi, dan bukan semata-mata konsep sosial yang dilandasi motif belas kasihan 10. Kemitraan antara pemerintah dan pers antara lain terwujud dalam bentuk pemberian informasi yang bersifat sosial.... 11. Tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginvestasi dolar y sebesar dolar .jika keuntungan mencapai yang akan di peroleh x jika keuntungan di bagi berdasarkan investasi ? x y = 3000 3500 = 6 7keuntungan X = 6 13 x 1800 = 10800 13 = 830,769 12. Apa perbedaan perusahaan kemitraan umum dan kemitraan terbatas? Kemitraan umum adalah kesepakatan antara dua orang atau lebih yang memiliki keuntungan dan kewajiban sama dengan pertanggungjawaban terbatas menawarkan keuntungan pajak yang sama seperti kemitraan umum namun menawarkan beberapa perlindungan untuk aset pribadi mitra dengan membatasi tanggung jawab mereka terhadap kepentingan mereka di perusahaan saja 13. Tuliskan setidaknya tiga organisasi regional lain yang menjadi mitra ASEAN Tiga organisasi regional lain yang menjadi mitra ASEAN antara lain ANDEAN Community ASEAN – ESCAP Economic Cooperation Organization ECO Pembahasan ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967, setelah dilakukannya penandatanganan Deklarasi Bangkok. Pendiri ASEAN terdiri dari 5 negara yitu Indonesia, Thailand, Malaysia, dang, Singapura. Prinsip-prinsip utama ASEAN antara lain -Kerjasama yang efektif antara negara-negara anggota -Menghormati kemerdekaan, kedaulatan, kesamaan, integritas, dan identitas nasional setiap negara. Adapun tujuan yang ingin dicapai dengan berdirinya organisasi ASEAN adalah sebagai berikut pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya khususnya di wilayah ASEAN. perdamaian dan stabilitas. satu sama lain dalam bentuk pelatihan filsafat dan fasilitas riset. hubungan baik studi di wilayah atau kawasan Asia Tenggara. Pada tanggal 27 November 1971 diadakakan konferensi para menteri luar negara ASEAN yang bertempat di Kuala Lumpur Malaysia. Hasil dari konferensi ini adalah suatu gagasan yang menghendaki kawasan Asia Tenggara menjadi kawasan yang damai, bebas, dan netral. Gagasan tersebut dinamakan ZOPFAN Zone of Peace, Freedom, and Neutrality, selain memperkrasai konsep ZOPFAN, dalam konferensi ini juga juga memperkenalkan doktrin lainnya yaitu SEANFWZ Southeast Asian Nuclear Weapons Free Zone yang artinya kawasan bebas senjata nuklir, SEANFWZ adalah bagian dari ZOPFAN. Pelajari lebih lanjut ASEAN Anggota ASEAN Belakang dan Tujuan Berdirinya ASEAN Detail Jawaban Kelas 9 Mapel IPS Bab Asia Tenggara Kode Kata Kunci ASEAN 14. Salah satu keputusan penting pertama yang dihadapi seorang wirausahawan adalah memilih bentuk kepemilikan bisnis antara lain meliputi, perusahaan perorangan, usaha kemitraan partnership, mitra komanditer limited partner, perseroan corporation, jelaskan mengapa sangat penting untuk membuat pilihan yang benar sejak awal? Jawabankarna biar tau apa yg kita kerjakan dengan pengalaman kerjaPenjelasansemoga membantu maaf ya kalau salah 15. Perbedaan mitra hulu dan mitra hilir serta contohnya Materi Kegiatan ProduksiKelas 8Kata Kunci Hulu, Hilir dan MitraPembahasan ________________________Perbedaan Mitra hulu dan Mitra Hilir adalah sebagai berikut. ✔ Mitra Hulu adalah Sektor Industri Yang khusus Mengolah bahan Mentah Menjadi Barang Yang setengah Jadi, Sehingga barang ini Masih Memerlukan Proses Atau Tahapan Agar bisa digunakan Sedangkan Mitra Hilir adalah Sektor Industri Yang Khusus Mengolah bahan Mentah Menjadi Produk Yang siap digunakan. ✔ Contoh Mitra Hulu adalah Sektor Industri Yang bergerak di Industri Logam, Kayu, Plastik dan Lain Sebagainya Sedangkan Mitra Hilir adalah Sektor Industri Yang bergerak di Industri Pembuatan Alat - alat elektronik, Motor, Mobil dan lain - ThanksGiving - 16. contoh bentuk kemitraan usaha dalam pasar input?​ Jawabanmaterial, uang, manusia, informasi, dan pengetahuan merupakan hal yang didapat dari lingkungannya dan akan memiliki kontribusi pada produksi output. Input memiliki peran yang penting dalam terlaksananya proses kemitraan. Pada sektor agribisnis input dapat berupa biaya operasional, biaya pemasaran, biaya tenaga kerja dan sebagainya. Dalam suatu proses kemitraan misalnya antara petani dengan perusahaan, pada umumnya terdapat kondisi dimana petani tidak mampu menyediakan input produksi yang dibutuhkan sehingga diperlukannya kehadiran suatu badan usaha seperti perusahaan yang mau bermitra dengan mereka sehingga kebutuhan input dapat didefinisikan sebagai kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah dan atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. 17. jathayu mitra prabu dasarasta apa arti mitra..? JawabanMitra adalah teman, partner, sahabat atau hubungan dua belah pihak yang saling menguntungkan. Keberhasilan hubungan tersebut sangat bergantung kepada kepatuhan dua belah pihak dalam menjalankan perjanjianPenjelasan[mitra] Makna mitra di KBBI adalah teman; sahabat;. Lihat arti dan definisi di atau teman dalam suatu kerjaan 18. Tiga orang membentuk kemitraan dan setuju membagi keuntungan secara rata. X menginvestasi dolar y sebesar dolar .jika keuntungan mencapai yang akan di peroleh x jika keuntungan di bagi berdasarkan investasi ? 3000×1800/3000+3500= 19. mengapa mitra usaha dibentuk sebagai organisasi agar memiliki badan hukum yg kuatagar memiliki badan hukum yang kuat 20. organisasi mitra sekolah yg beranggotakan para orang tua adalah Ruang koperasi dan UKS Suhu oven Adit adalah 80 celcius. Tentukan Suhu Satuan - Reamur- Farenheit- KelvinPelajaran Fisika x MatematikaKelas 7tolong bantu yah ges … ….​ Hasil dari 2m + -4n, jika m = -5 dan n = -6 adalah ..​ Rizki merupakan seorang lulusan sarjana akuntansi dengan konsentrasi perpajakan dan sekarang bekerja sebagai konsultan pajak di salah satu kantor kons … ultan pajak lokal dijakarta, ia bercita-cita ingin mendirikan sebuah kantor konsultan pajak setelah memiliki pengalaman yang cukup. Tujuh tahun kemudian cita-cita tersebut terealisasi, Pada Bulan April 2022 Rizki akhirnya membuka kantor konsultan pajak sendiri dengan beberapa temannya dengan nama Persekutuan Rizki, Fahmi dan Rekan atau dikenal brandingnya adalah “Revenue enhancement Solusi Republic of indonesia”. Rizki membuka kantor konsultan pajaknya di daerah Djakarta Selatan dengan menyewa 1 lantai di Gedung Menara Sudirman. Transaksi usaha berikut ini dilakukan oleh Tax Solusi Republic of indonesia sepanjang April 2022 Apr investasi usaha awal usahanya, Rizki menginvestasikan beberapa Asset sebagai berikut uang tunai/kas Perlengkapan Piutang Serta Peralatan sewa satu lantai di Gedung Menara Sudirman untuk tiga bulan kedepan, sesuai kesepakatan dengan kontrak sebesar premi untuk asuransi dalam bentuk kerugian dan kebakaran kas dari klien sebagai pembayaran dimuka untuk jasa yang diberikan dan dicatat sebagai pendapatan diterima di muka tambahan peralatan kantor secara kredit dari PT Aneka Sempurna sebesar Rp kas dari klien atas pelunasan piutang usaha tunai untuk iklan koran Rp PT Aneka Sempurna sebagian dari utang peralatan tanggal 4 April sebesar jasa secara kredit untuk periode one- 12 Apr sebesar Rp gaji 2 mingguan untuk pegawai administrasi paruh waktu kas dari klien atas laurels periode one-16 April tunai atas pembelian barang habis pakai pendapatan honor yang masih terutang periode thirteen-20 April kas dari klien atas honour periode 17 – 24 April kas dari klien atas pelunasan piutang usaha gaji two mingguan resepsionis paruh waktu Butuh jawaban wa 083800670247 1. 3/five + 5/seven + fifteen/35 + 1/5 = 2 three/eight + ane/2 + 10/12 + 5/six =3. four/9 + 2/6 + 4/2 + ii/iii =4. 5/7 + half-dozen/7 + 2/three + iii/7 =tolong dijawab y … aaa sama buat langkah – langkahnya​ pak heri memanen 500 buah jambu. jambu tersebut akan dimasukkan keberapa keranjang sama jika jambu dimasukkan ke 25 keranjang, berapa banyak … jambu pada masing masing keranjang?​ ArticlePDF Available AbstractThe purpose of this study is to describe the partnership of early childhood education between school families and the community. This type of research was a qualitative deskriptif approach. The research subjects were parents, educators and managers. Data were collected through interviews, observation, and document study. The data were analyzed using the qualitative analysis techniques data collecting, data display and conclusion drawing. The results showed that the relationship of partnerships and cooperation between PAUD institutions and parents and the community of students can be achieved to the maximum and increase the role of parents of early childhood and the community in the implementation of early childhood education institution programs. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 181ISSN 2622-6952KEMITRAAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINISINERGI TIGA PILAR PENDIDIKAN KELUARGA, SEKOLAH DAN MASYARAKATJamilahProgram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP PGRI Sumenepjamilah purpose of this study is to describe the partnership of early childhood education between school families and the community. This type of research was a qualitative deskriptif approach. The research subjects were parents, educators and managers. Data were collected through interviews, observation, and document study. The data were analyzed using the qualitative analysis techniques data collecting, data display and conclusion drawing. The results showed that the relationship of partnerships and cooperation between PAUD institutions and parents and the community of students can be achieved to the maximum and increase the role of parents of early childhood and the community in the implementation of early childhood education institution partnership, parents, school, societyAbstrakTujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan kemitraan pendidikan anak usia dini antara keluarga sekolah dan masyarakat. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ini adalah para orang tua pendidik dan pengelola Pengambilan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Data penelitian ini dianalisis menggunakan teknik kualitatif diantara pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan kemitraan dan kerjasama antara lembaga PAUD dengan orang tua dan masyarakat peserta didik bisa dicapai secara maksimal dan meningkatkan peranan orang tua anak usia dini dan masyarakat dalam pelaksanaan program-program lembaga Kunci kemitraan, orang tua, sekolah, masyarakat SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019182I. PENDAHULUANMutu pendidikan saat ini merupakan salah satu persoalan yang ada dalam dunia pendidikan, khususnya dalam program pendidiakan anak usia dini. Menurut Depdiknas 2002 1 ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan di Indonesia tidak merata 1 kebijakan pendidikan dengan menggunakan pendekatan production function atau input-output analysis. Menurut pendekatan ini sekolah merupakan pusat produksi yang melahirkan input dan menghasilkan output; 2 pendidikan yang dilaksanakan secara birokratik analitik sehingga sekolah tidak bisa mandiri dalam proses penyelenggaraannya; 3 keterlibatan stakeholders masih minim. Misalnya keputusan sekolah sering diabaikan terutama guru. Padahal guru merupakan ujung tombak dari perubahan sekolah. Orang tua dan masyarakat juga merupakan stakeholders yang selama ini diabaikan dalam pengelolaan pendidikan. Mereka memiliki kepentingan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang baik di masyarakatnya. Keluarga sebagai lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak mempunyai andil yang sangat besar bagi perkembangan anak untuk menuju kehidupannya yang lebih komplek. Sementara itu, partisipasi orang tua dan masyarakat selama ini pada umumnya baru sebatas dukungan dana, sedangkan dukungan lain seperti pemikiran moral, pengelolaan, jasa kurang mendapat perhatian. Ada beberapa alasan mengapa orang tua harus terlibat dalam program diantaranya 1 Keinginan orang tua untuk terlibat, keinginan orang tua yang ingin terlibat secara penuh telah meningkat dari tahun ke tahun; 2 Peningkatan prestasi dan keterampilan sosial, ketika orang tua terlibat citra diri dan prestasi anak-anak akan terus meningkat, 3 Dukungan orang tua, orang tua lebih mendukung program di mana mereka memiliki kontak langsung dan memiliki keterlibatan bermakna; 4 Hak orang tua, pendidik anak usia dini mengakui bahwa orang tua memiliki hak untuk terlibat dalam program-program yang mempengaruhi mereka; 5 Tugas orang tua, setiap orang tua harus terlibat dalam beberapa cara untuk setidaknya ketika anak-anak mereka dalam program. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan performa peserta didik adalah melalui penguatan kemitraan antara sekolah, orang tua, dan institusi-institusi kemasyarakatan yang terkait. Salah satu kriteria PAUD yang berkualitas adalah memberikan pelayanan berdasarkan program yang berkualitas pula, sebagaimana yang diungkapkan oleh Wortham 2013 47 bahwa PAUD yang berkualitas memiliki ciri-ciri sebagai berikut 1 Berprinsip pada perkembangan anak. 2 Memiliki kurikulum yang seimbang. 3 Memperhatikan hubungan orang tua, guru dan anak. 4 Memberikan penilaian dan pertanggungjawaban. 5 Menghargai perbedaan anak dan keluarga. 6 Memperhatikan etika dan hubungan antar guru. Pendapat di atas mengungkapkan bahwa PAUD yang berkualitas memiliki hubungan baik antara orang tua, anak dan guru atau dengan kata lain memasukkan partisipasi orang tua ke dalam program sekolah. Hal tersebut dilakukan karena mengingat bahwa anak usia dini pada Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 183dasarnya tidak dapat terlepas dari pengasuhan dan pengawasan orang tua, baik dalam lingkungan rumah maupun dalam lembaga pendidikan atau sekolah, di mana Mansur 2009 339 menyatakan bahwa “orang tua memiliki tanggung jawab sejak akal pikiran anak belum sempurna sampai anak mampu menemukan dirinya atas tindakannya sendiri”. Berdasarkan uraian di atas, akan dikembangkan model kemitaraan orang tua sekolah yang tepat dengan karakteristik masyarakat setempat. Sehingga proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah dapat berlangsung secara optimal. Sekolah sebagai salah satu lembaga formal yang memang dengan sengaja dirancang sebagai tempat belajar, tempat untuk berkomunikasi antara guru dan murid, yang difasilitasi dengan peralatan belajar laboratorium, perpustakaan, olah raga, music, teknologi informasi maka di sekolah seolah-olah sebagai tempat yang khusus untuk melaksanakan kegiatan pendidikan atau belajar. Namun demikian sekolah bukan identik dengan pendidikan, karena aktivitas pendidikan terjadi secara luas baik dalam keluarga, masyarakat, maupun tempat kerja. Kemitraan orang tua dalam sekolah memberikan manfaat penting bagi prestasi peserta didik adalah memberikan sumber daya untuk menambah serrta melengkapi keberadaan peluang program untuk pembaharuan staf dan inovasi program sekolahi, serta dukungan orang tua dalam hal politik Keith dan Girling, 1991. Beberapa alasan utama yang mendasari pentingnya melibatkan orang tua dalam pendidikan di lembaga pendidikan menurut Epstein 1991 dalam Brewer 2007 238 adalah 1 orang tua dan guru lebih banyak memiliki kesamaan dibandingkan perbedaan dalam mendidik anak. Mereka banyak memiliki tujuan dan kebutuhan yang perlu dibagi satu dengan lainnya, 2 keterlibatan orang tua dalam program tidak hanya berhenti pada pendidikan anak, tetapi sebaiknya berlanjut sampai pada jenjang berikutnya, 3 program yang disusun lembaga pendidikan melibatkan semua anggota keluarga, 4 program yang disusun lembaga pendidikan menjadikan tugas guru menjadi lebih mudah, dan 5 program berkembang seiring dengan kemitraan orang tua dalam pendidikan bagi orang tua meliputi 1 orang tua berusaha meningkatkan interaksi dan diskusi dengan anak-anak mereka, dan menjadi lebih tanggap serta peka terhadap kebutuhan sosial, emosional, dan perkembangan intelektual anak, 2 orang tua akan semakin percaya diri dalam mengasuh anak-anak mereka, 3 orang tua mendapat pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan anak-anak mereka, sehingga mereka akan menjadi lebih mampu memberikan cinta kasih dan penguatan serta mengurangi hukuman bagi anak-anak mereka, 4 orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik tentang peranan guru dan kurikulum sekolah, 5 ketika orang tua mengerti apa yang sedang dipelajari oleh anak-anak mereka, mereka menjadi lebih semangat untuk membantu anak-anaknya belajar di rumah, 6 kepedulian orang tua terhadap sekolah meningkat dan kebulatan tekad serta komitmen mereka terhadap sekolahpun semakin kuat, dan 7 orang tua menjadi lebih sadar dan menjadi lebih aktif dalam memberikan perhatian serta bantuan SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019184terhadap pendidikan anak mereka ketika diminta oleh sekolah untuk ambil bagian dalam tim pengambil keputusan. Manfaat kemitraan masyarakat dalam pendidikan bagi guru meliputi 1 para guru dan kepala sekolah akan mendapatkan nilai moral yang lebih tinggi dalam pandangan orangtua, 2 para guru dan kepala sekolah akan mendapat penghargaan yang lebih tinggi atas profesi mereka dari pihak orangtua, 3 pelibatan orang tua secara konsisten yang akan meningkatkan komunikasi dan hubungan yang baik antara pihak orangtua, guru, dan para pegawai, 4 para guru dan kepala sekolah merasakan adanya peningkatan kepuasan kerja di dalam diri mereka. Bagi sekolah, manfaat yang dapat diambil dari keterlibatan orang tua dalam pendidikan meliputi 1 sekolah-sekolah yang aktif melibatkan orang tua dan masyarakat cenderung memiliki reputasi yang lebih baik di masyarakat, 2 hubungan sekolah dan orang tua dilandasi oleh adanya kepercayaan dan saling pengertian. Sekolah perlu menunjukkan ketulusan kepada orang tua bahwa mereka benar-benar peduli dengan kemajuan anak. Di masa awal sekolah upaya membangun hubungan dengan orangtua tentunya sangat menantang dan tingkat keikutsertaan rendah. Tapi setelah tercapai kepercayaan itu, orangtua kemudian mau terlibat dan semua tertuju pada satu arah yaitu kemajuan anak. Bahkan di tempat rekreasi untuk mengisi waktu luangpun terjadi aktivitas pendidikan atau belajar. Sekolah tidak berada pada ruang hampa yang steril dari pengaruh kekuatan-kekuatan sosial yang lain. Kekuatan masing-masing elemen tersebut akan berarti manakala digerakkan secara sinergis untuk mendukung aktivitas pendidikan. Elemen-elemen kekuatan sosial tersebut, dalam bahasa para sosiolog sering dikenal dengan istilah social capital atau modal sosial. Oleh karenanya teori pertama yang menjadi basis kajian kemitraan dalam pendidikan adalah teori modal sosial social capital theory. Selain mengkoordinir kekuatan relasi sosial, dalam prakteknya kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat terjadi pendistribusian kerja dan kewenangan. Sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat saling mempertukarkan job sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk mensupport pendidikan anak di sekolah. Pertukaran job dan kewenangan antar elemen ini dipandang mampu menyelesaikan “pekerjaan” dan masing-masing elemen saling diuntungkan. Model pertukaran pekerjaan dan kewenangan ini dalam bahasa para sosiolog dikenal dengan exchange theory atau teori METODEPenelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengkaji permasalahan dan memperoleh makna yang lebih mendalam. Penelitian ini bersifat deskriptif artinya data yang dikumpulkan akan disajikan dalam bentuk kalimat Sugiyono, 2011 46 karakteristik penelitian kualitatif bersifat induktif, pengembangan konsep didasarkan atas data yang ada. Sumber data dari informan, dokumen dan penelitian di lapangan. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, obeservasi, studi dokumen. Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 185Teknik pengumpulan data dengan menggunakan analisis interaktif Milles and Huberman. Data penelitian ini dianalisis menggunakan teknik kualitatif diantara pengumpulan data, penyajian data dan penarikan HASIL DAN Kemitraan Pendidikan dalam KeluargaDalam konteks kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat, sekolah berperan sebagai mesin yang menyediakan jasa yang mempersatukan ketiga elemen tesebut. Kalau diperhitungkan secara seksama, mereka memiliki kepentingan yang saling melengkapi, dan oleh karenanya menghasilkan sejumlah transaksi. Relasi transaksi pendidikan antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Dalam pola tersebut, sekolah menjadi mesin sentral yang menjadi perantara untuk mempersiapkan peran-peran sosial dalam keluarga dan masyarakat. Namun, peran sentral sekolah sebagai mesin tidak akan dapat berfungsi secara maksimal tanpa transaksi-transaksi dengan orang tua dan masyarakat. Orang tua mempertukarkan uang atau barang dengan jasa yang disediakan di sekolah, yang berupa pendidikan untuk menjadikan anakanaknya baik, cerdas, dan terampil. Orang tua menginginkan anaknya menjadi individu yang baik, cerdas, dan terampil agar siap memainkan peran di masyarakat. Masyarakat berkepentingan dengan individu yang baik, cerdas, dan terampil dalam rangka untuk menjamin eksistensi dan stabilitas sosial. Guna mencapai keinginan tersebut, masyarakat menyediakan resources dan atau volunteer yang dapat dimanfaatkan sekolah untuk mengoptimalkan proses orang tua terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya dalam PAUD menjadi hal yang mendasar bagi kelancaran program PAUD itu sendiri. Peran aktif orang tua sangat diperlukan dalam mengarahkan anak dalam proses belajar mengajar maupun sebelum dan sesudah kegiatan pembelajaran itu ini sesuai dengan pendapat Hornby, 2011 32 yang menyatakan bahwa partisipasi orang tua pada umumnya berwujud dukungan orang tua dalam bentuk pendanaan dan terhadap hal-hal tertentu dalam pendidikan anak mereka seperti menghadiri kegiatan anak, mengantar dan menjemput anak, membayar uang sekolah. Pada tahap ini yang dinilai adalah kehadiran dan partisipasi orang tua dalam membantu PAUD untuk menyusun suatu program atau memberikan buah kiran pada awal pelaksanaan kegiatan lembaga PAUD. Hal ini selaras dengan teori Beaty 1984 206 yang mengatakan bahwa pada pertemuan awal dengan orang tua, pendekatan paling efektif adalah fokus pada anak, bukan pada program yang diselenggarakan di sekolah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Morrison 2012 372 bahwa partisipasi orang tua, apapun latar belakangnya, cenderung dapat meningkatkan pencapaian siswa dan mendorong hasil pendidikan yang positif. Hubungan tersebut berlaku bagi seluruh keluarga dari semua latar belakang ekonomi, ras/etnis, dan pendidikan. SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019186Dalam proses yang melibatkan orang tua dalam pembelajaran anak usia dini ketika mengacu pada pendapat Morrison 1988 323 tentang kesiapan pendidik dalam merancang kegiatan pembelajaran yang melibatkan orang tua. Ada tiga tingkat kesiapan pendidik untuk melibatkan orang, maka dalam penelitian inimenunjukkan tingkat kesiapan guru dalam tingkat kedua yaitu kesiapan partisipasi orang tua terhadap pelaksanaan program di PAUD yaitu untuk keberhasilan dan kemajuan program PAUD. Orang tua merupakan faktor pendorong utama dalam keberhasilan program PAUD. Pengetahuan orang tua mengenai informasi bahwa pentingnya pendidikan di masa golden age merupakan salah satu bentuk partisipasi orang tua. Tingkat kepercayaan para orang tua terhadap lembaga PAUD menjadi pintu utama bagi lembaga menuju keberhasilan program. Partisipasi orang tua anak usia dini adalah bentuk partisipasi orang tua dalam program pendidikan anak usia serta dan partisipasi mereka yang ditunjukan dalam rapat, keikutsertaannya dalam mengemukakan pendapat, dan partisipasinya dalam monitoring dan evaluasi kegiatan. Partisipasi merupakan tingkat kerjasama yang minimum, misalnya orang tua datang dan membantu sekolah jika diundang dalam bentuk rapat wali murid. Partisipasi merupakan tingkat kerjasama yang lebih luas dan tinggi tingkatannya. Orang tua dan sekolah duduk bersama membicarakan berbagai berbagai program dan kegiatan Kemitraan Pendidikan dengan SekolahPartisipasi merupakan tingkat kerjasama yang minimum, misalnya orang tua datang dan membantu sekolah jika diundang dalam bentuk rapat wali murid. Partisipasi merupakan tingkat kerjasama yang lebih luas dan tinggi tingkatannya. Orang tua dan sekolah duduk bersama membicarakan berbagai berbagai program dan kegiatan anak. Menurut Mulyasa 2007 168-169, beberapa hal yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka mengembangkan kemitraan dengan orang tua antara lain 1. Melibatkan orang tua secara profesional dalam mengembangkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program sekolah. 2. Menjalin komuikasi secara intensif dan proaktif. Untuk maksud tersebut, sekolah dapat melakukan hal-hal berikut. a. Mengucapkan selamat datang dan bergabung dengan sekolah, dewan pendidikan, dan komite sekolah bagi orang tua peserta didik baru. Lakukan perkenalan dan orientasi singkat tentang sekolah dan berbagai kegiatannya b. Mengadakan rapat secara rutin dengan orang tua, sehingga rapat dapat efektif dan mereka saling mengenal. c. Mengirimkan berita tentang sekolah secara periodik, sehingga orang tua mengetahui sekolah, program dan perkembangannya. d. Membagikan daftar tenaga kependidikan secara lengkap termasuk alamat dan nomor telepon dan tugas pokok, sehingga orang tua dapat berhubungan langsung dengan mereka jika Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 187diperlukan. e. Mengundang orang tua dalam rangka mengembangkan kreativitas dan prestasi peserta didik. f. Mengadakan kunjungan ke rumah untuk memecahkan masalah dan mengembangkan pribadi peserta didik g. Mengadakan pembagian tugas dan tanggung jawab antara sekolah dengan orang tua dalam pembinaan peserta didik. h. Melibatkan orang tua dalam berbagai program dan kegiatan di sekolah yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti bakti sosial, perpisahan, peringatan hari-hari besar, pentas seni. Pelibatan orang tua ini disesuaikan dengan hobi, kemampuan, dan pekerjaan mereka dengan program kegiatan yang akan dilakukan di sekolah. i. Melibatkan orang tua dalam mengambil berbagai keputusan, agar mereka ikut merasa bertanggung jawab untuk melaksanakannya. j. Mendorong guru untuk memberdayakan orang tua sebagai sumber belajar dan menunjang keberhasilan belajar peserta upaya-upaya tersebut, hal terpenting yang harus dilakukan pihak sekolah untuk meningkatkan partisipasi orang tua di sekolah adalah dengan merencanakan atau membuat program pelibatan orang tua di sekolah. Program pelibatan orang tua di sekolah dapat dirancang dalam berbagai bentuk yang tentunya harus disesuaikan dengan situasi, kondisi dan budaya orang tua dan guru yang ada di sekolah tersebut. Jawaban atas masalah itu dapat menjadi pijakan dalam merumuskan program yang berbasis pada aspirasi dan kebutuhan orang tua, yang pada akhirnya mereka mendukung setiap program yang akan diimplementasikan di kelompok bermain. Adanya kesejajaran temuan yang dihasilkan dari penelitian ini dan beberapa penelitian yang sejenis mengindikasikan bahwa partisipasi orang tua dalam pengelolaan program pendidikan di kelompok bermain menjadi prasyarat bagi pengelolaan program pendidikan anak usia dini yang adaptif dengan lingkungan masyarakat Kemitraan Pendidikan dengan MasyarakatMasyarakat menyediakan sumber-sumber daya resources yang diperlukan untuk kegiatan pendidikan di sekolah. Sumber-sumber tersebut mungkin ada yang memerlukan dan tidak memerlukan biaya untuk pemanfaatannya bagi sekolah. Sekolah sebagai pihak pelaksana praktis pendidikan harus mampu mengidentikasi dan memanfaatkan secara optimal resources yang ada di masyarakat untuk kepentingan pendidikan di sekolah. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kemitraan sekolah dengan masyarakat adalah1. Pemimpin sekolah dan para pengambil kebijakan harus mendorong rekonseptualisasi sekolah negeri untuk memupuk pentingnya sumber sumber ekonomi. 2. Pihak sekolah dan organisasi sosial lainnya diharapkan menyediakan link layanan secara hati-hati dengan mempertimbangkan cakupan, SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019188kebutuhan dana, kompleksitas organisasi dan profesi, dan jenis layanan yang akan diberikan. 3. Mencari alternatif sumber pendanaan bagi proyek kegiatan bersama masyarakat dengan selalu menjaga konsistensi dan stabilitas. Semakin besar dan kompleks kegiatan, semakin besar pula membutuhkan pendanaan. Beragam stakeholders di sekolah harus dijadikan mitra kerja, tidak hanya sebagai pendengar, namun juga dalam diskusi dan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan perbaikan sekolah, meningkatkan performa siswa dan memperkuat peran keluarga. Decker and Decker, 2003 105. Kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat didesain untuk memfasilitasi jejaring agar dapat menarik berbagai ide dan sumber daya, berbagi pengalaman yang terbaik, dan mengenalkan kepada masyarakat luas akan pentingnya kemitraan. Hal demikian dapat menjaga agar tidak ketinggalan informasi dan trend pendidikan yang terbaru, penyediaan sumber-sumber daya, dan publikasi agar program yang lebih efektif dan kontekstual Decker and Decker, 2003 106.Dalam bentuk praktis kemitraan antara sekolah dengan masyarakat dapat diwujudkan dalam beragam bentuk dan peran sesuai dengan kapasitas masing-masing. Misalnya perusahaan lokal dapat mensupport sekolah dengan menyumbangkan sumber daya yang dimilikinya dan waktu. Para pengusaha dapat menyumbangkankan peralatan, menyediakan tamu ahli, sebagai tuan rumah studi lapangan, atau menawarkan training magang bagi para siswa, sehingga para siswa memahami hubungan antara dunia sekolah dengan dunia kerja, dan mengetahui model peran baru untuk ditiru. Masyarakat mungkin juga memiliki budaya tertentu yang dapat direeksikan di sekolah seperti budaya daerah, dimana sekolah dapat menyelenggarakan apresiasi budaya dan para siswa dapat berpartisipasi dengan bermain peran dengan menggunakan pakaian adat dalam budaya masyarakat Faktor-Faktor yang Mempengaruhi KemitraanHasil temuan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemitraan dalam penyelenggaraan PAUD menunjukkan tingkat a Pendidikan masyarakat orang tua berpendidikan TK, SD, SMP, SMA, SI selalu memberi motivasi terhadap belajar anak dan mendukung belajar anak dengan semua fasilitas yang dibutuhkan untuk belajar, Orang tua yang berpartisipasi dalam lembaga PAUD rata-rata memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua yang tidak berpartisipasi. Orang tua yang berpartisipasi di lembaga PAUD paling rendah berpendidikan SD dan paling tinggi adalah S1, namun rata-rata berpendidikan SMA. Sedangkan orang tua yang tidak berpartisipasi di lembaga PAUD paling tinggi berpendidikan SMA dan sebagian besar berpendidikan SMP dan SD. Dari tingkat pendidikan orang tua menunjukkan bahwa orang tua Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 189yang berpendidikan lebih tinggi memiliki persepsi yang lebih baik tentang pendidikan anak usia dini dan lembaga PAUD dibandingkan dengan yang berpendidikan lebih rendah. PAUD paling tinggi berpendidikan SMA dan sebagian besar berpendidikan SMP dan Jenis pekerjaaan, orang tua yang memiliki pekerjaan tentunya mampu mendukung, menyetujui dan mendanai semua program yang diputuskan oleh sekolah, sesuai dengan sarat program tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa dan peningkatan pestasi belajar anak yang akhirnya mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Keadaan ekonomi keluarga juga mempengaruhi meskipun secara tidak langsung. Orang tua yang berpartisipasi di lembaga PAUD sebagian besar berpendapatan lebih tinggi daripada orang tua yang tidak berpartisipasi. Orang tua yang berpartisipasi di lembaga PAUD rata-rata berpenghasilan Rp hingga Rp perbulan, sedangkan orang tua yang tidak berpartisipasi di lembaga PAUD memiliki penghasilan rata-rata kurang dari Rp perbulan. Berdasarkan perspektif Epstein 2002 87 terdapat beberapa aspek yang mempengaruhi faktor relasi antar orang tua, lembaga dan msyarakat. Di bawah ini merupakan hasil temuan di lapangan gambaran relasi tersebut1 Pemberian informasi tentang pengetahuan dan ketrampilan pengsuhan. Pemberian informasi ini dilakukan pada saat pertemuan orangtua dan guru. Hanya saja frekuensinya 1 kali dalam 1 semester, yaitu pada saat pembagian hasil Pemberian tugas kepada anak didik yang harus dikerjakan bersama orangtua di rumah. Guru terkadang memberikan PR namun belum terlihat upaya berorientasi untuk melibatkan orangtua bersama anak dalam prosesnya. Selain itu guru enggan memberikan PR karena dianggapnya akan membebani anak didik. 3 Para guru belum memiliki wawasan dan pengetahuan untuk mendesain tugas yang menarik dan melibatkan orang tua dalam proses Mengajak orang tua untuk menjadi relawan atau tenaga sukarela dalam kegiatan pembelajaran. Pihak lembaga pendidikan merasa tidak perlu melibatkan orang tua karena urusan pendidikan sepenuhnya tanggungjawab guru. Selama ini tidak ada program orangtua menjadi Melibatkan orang tua dalam pembuatan keputusan atau perencanaan kegiatan di lembaga. Pengelola lembaga tidak setuju bila orangtua terlibat dalam pengambilan keputusan atau perencanaan kegiatan di lembaga. karean mereka menganggap buka wewenang orang Komunikasi orang tua-guru. Komunikasi orang tua dan guru jarang dilakukan. Agaknya orang tua juga segan untuk bertanya banyak SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019190hal tentang anak mereka kepada guru. kurang ada inisiatif dari kedua belah pihak untuk melakukan komunikasi secara intensif untuk membicarakan perkembangan Kerjasama dengan orang tua. Belum dikembangkan program kolaborasi dengan orang tersebut senada dengan pendapat Slamet Suyanto 2005 226 yang menyatakan bahwa orang tua mengganggap mereka tidak bisa berbuat banyak dan guru jauh lebih kompeten di bidangnya. Berdasarkan hasil FGD antara pengelola PAUD Tarbiyatus Shibyan dan PAUD Mutiara Hati dan para stakeholders PAUD bahwa faktor yang menjadi kendala dalam partisipasi orang tua pada program PAUD yang paling tinggi adalah faktor waktu, dimana faktor ini menjadi penentu bisa atau tidaknya orang tua terlibat dalam kegiatan yang memberikan kesempatan untuk Model KemitraanModel kemitraan sangat tergantung pada visi dan misi sekolah. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya kemitraan antara sekolah keluarga dan masyarakat, karena 1 Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama, tetapi dalam praktiknya masih banyak keluarga yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak pada sekolah, 2 Peran sekolah adalah membantu keluarga agar pelaksanaan pendidikan lebih sistimatis, efektif, dan hasilnya tersertikasi, 3 Tidak semua kebutuhan pendidikan anak dapat dipenuhi oleh satuan pendidikan maupun keluarga, 4 Kerjasama keluarga dengan satuan pendidikan dan masyarakat mutlak diperlukan, 5 Satuan pendidikan wajib mendorong kemitraan dan pelibatan keluarga dalam memajukan pendidikan anak penelitian ini sejalan dengan temuan dari Morrison 1988, dalam Patmonodewo, 2003 125 yang mengemukakan tiga kemungkinan kemitraan orang tua, yaitu 1 orientasi pada tugas, yaitu harapan kemitraan orang tua dalam membantu program sekolah yang berkaitan sebagai sta pengajar staf administrasi, sebagai tutor, melakukan monitoring dan membantu mengumpulkan dana, membantu mengawasi anak apabila anakanak melakukan kunjungan luar, serta membantu anak dalam tugas-tugas sekolah. 2 orientasi pada proses, kemitraan orang tua dalam kegiatan yang berhubungan dengan proses pendidikan, antara lain perencanaan kurikulum, memilih buku yang diperlukan sekolah, seleksi guru, dan membantu menentukan standar tingkah laku yang diharapkan. 3 orientasi pada perkembangan, yaitu untuk mengembangkan keterampilan yang berguna bagi mereka sendiri, anak-anaknya, sekolah, guru, keluarga, dan pada waktu yang bersamaan meningkatkan keterlibatan orang Komite Sekolah bertujuan untuk 1 mewadahi dan menyalurkan aspirasi dan prakarsa masyarakat dalam melahirkan program kebijakan sekolah; 2 meningkatkan tanggung jawab dan peran serta aktif seluruh lapisan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan; 3 menciptakan suasana dan kondisi transparan, akuntabel dan demokratis dalam penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan peran yang dijalankan Komite Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 191Sekolah adalah 1 sebagai pemberi pertimbangan dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan di sekolah; 2 sebagai pendukung nansial, pemikiran, tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah; 3 sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan di sekolah; 4 sebagai mediator antara pemerintah dan masyarakat sekolah Depdiknas, 2003 12. Sementara itu, fungsi Komite Sekolah adalah 1 memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada sekolah mengenai kebijakan dan program pendidikan, kriteria tenaga kependidikan, fasilitas pendidikan; 2 mendorong orang tua dan masyarakat berpartisipasi dalam pendidikan dan menggalang dana masyarakat dalam rangka pembiayaan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Perkembangan merupakan rangkaian proses perubahan ke arah yang lebih maju dan lebih dewasa. Mengembangkan kreativitas sejak dini itu sangat penting bagi perkembangan anak karena ada beberapa perilaku yang mencerminkan perilaku kreativitas alamiah anak pra sekolah menjadi nyata seperti menjajaki lingkungannya, dan rasa ingin tahu mereka sangat besar. Konsep yang sesuai dengan partisipasi orang tua dalam program PAUD adalah konsep kemitraan partnership concept. Konsep ini diperlukan oleh lembaga untuk meningkatkan partisipasi orang tua. Sehingga minat orang tua terlibat dalam pendidikan anak usia dini di rumah dan sekolah merupakan prediktor yang positif terhadap proses dan prestasi belajar anak, maka dapat ditengarai orang tua yang jarang terlibat akan terjadi kendala dalam proses dan prestasi belajar anak atau model kemitraan yang terjalin adalah komunikasi dua arah antara orang tua dan guru. Saling menghormati dan dukungan antara pendidik dan orang tua Pengambilan keputusan bersama antara sekolah dan keluarga fokus pada peningkatan belajar anak di sekolah dan di rumah. Guna membangun kemitraan dan memberdayakan orang tua, sekolah dapat memberikan tutorial, tugas monitoring dan workshop yang sesuai bagi orang tua untuk memberikan materi kepada mereka tentang bagaimana membantu mereka memahami tentang anak-anak mereka yang prestasinya rendah. Program ini menunjukkan bahwa sekolah peduli terhadap orang tua dan keberhasilan anak-anak mereka. ikan anak kemitraan antara sekolah dengan keluarga dapat dilakukan melalui 1 kegiatan pertemuan orang tua, 2 keterlibatan orang tua orang tua di dalam kelas anak 3 keterlibatan orang tua dalam acara bersama, 4 Hari konsultasi adanya kolaborasi antara sekolah dengan keluarga adalah 1 siswa dapat berperilaku dan menunjukkan prestasi yang lebih baik di sekolah, 2 memberikan kontribusi yang positif dalam prestasi akademis, frekuensi kehadiran anak, iklim sekolah, persepsi orang tua dan anak tentang belajar di kelas, sikap dan perilaku positif anak, kesiapan anak untuk mengerjakan PR, peningkatan waktu yang dihabiskan anak bersama orang tuanya, aspirasi pendidikan, kepuasan orang tua terhadap guru, dan kesadaran anak terhadap well being, 3 memberi efek positif pada berbagai aspek pendidikan termasuk meningkatkan perilaku anak dan adaptasi SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019192social, mengurangi masalah kedisiplinan di sekolah, meningkatkan kesuksesan di sekolah, dan peningkatan kehadiran di sekolah, 4 intensitas dukungan keluarga berpengaruh meningkatkan pencapaian perkembangan anak usia dini usia 0-6 tahun, 5 kemitraan dan peran aktif orang tua di sekolah berpengaruh meningkatkan kemajuan dan kesuksesan anak-anak 2011 65 menyatakan bahwa interaksi yang terjalin antara orang tua dan sekolah meliputi dua kategori yaitu parental involvement dan participation. Begitu pula yang dikemukakan Davis bahwa parental involvement adalah partisipasi orang tua pada jenis aktivitas yang ditujukan untuk mendukung program- program sekolah, sedangkan participation adalah orang tua berpengaruh atau berupaya mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pada hal-hal yang sangat penting di sekolah, seperti penentuan program sekolah dan lain-lain Irene, 2011 65. Dengan demikian partisipasi orang tua sangat penting demi kemajuan suatu lembaga pendidikan. Hal ini selaras dengan Morrison 2012 382-383 yang menjelaskan bahwa cara untuk melakukan pengasuhan dan pendidikan bagi anak, program pelatihan bagi orang tua untuk menjadi pendamping kelas anak, dan pendukung aktivitas belajar merupakan beberapa bentuk kegiatan parenting. Dengan adanya parenting, pihak sekolah mengharapkan agar orangtua menyadari kemampuan anaknya, tidak banyak menuntut terutama pada anak yag mau SD. Orang tua diharapkan paham dengan perkembangan anak sendiri karena masing-masing anak berbeda. Hal ini sesuai dengan teori menurut Coleman 2013 74 yang menyatakan bahwa salah satu manfaat bagi orangtua dengan adanya kerjasama dengan pihak sekolah adalah memberikan informasi pada orangtua tentang perkembangan anak selama di kelas yang berguna bagi orang tua untuk memberikan tindak lanjut ketika di beberapa strategi yang dapat ditempuh dalam mengembangkan kemitraan antara sekolah dan masyarakat, di antaranya1. Mendorong pemanfaatan sumber-sumber daya dalam masyarakat dan voluntir untuk memperkaya kurikulum sekolah. 2. Mengembangkan kemitraan dalam pendidikan antara sekolah, masyarakat dan pusat-pusat penyedia layanan swasta. 3. Memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada di masyarakat untuk kegiatan pendidikan seperti pusat layanan masyarakat untuk pertemuan terkait dengan kegiatan pendidikan, sosial, budaya, dan kebutuhan rekreasional untuk seluruh masyarakat dari berbagai lapisan dan usia. 4. Menciptakan lingkungan masyarakat yang menopang terjadinya pembelajaran sepanjang hayat. 5. Membangun keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan di bidang pendidikan. 6. Menyediakan forum saran, suatu komunitas berbasis saling mensupport untuk mewujudkan aksi bersama antara semua komponen pendidikan dan agen- Jamilah Kemitraan pendidikan anak usia dini... 193agen sosial menuju terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik dan kebutuhan-kebutuhan khusus. 7. Mengembangkan sistem yang memfasilitasi keluarga, sekolah dan masyarakat dapat berkomunikasi Decker and Decker, 2003 6.Dalam mengembangkan kemitraan sekolah, sekolah perlu mengidentikasi potensi resources yang ada di sekitarnya kemudian mengorganisir resources tersebut untuk mensupport eksistensi sekolah. Segala potensi yang ada di sekitar sekolah mampu menjadi penopang keunggulan sekolah, manakal diberdayakan secara tepat dan optimal. Pentingnya kemitraan sekolah dan keluarga adalah 1 Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama, tetapi dalam praktiknya masih banyak keluarga yang menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan anak pada sekolah, 2 Peran sekolah adalah membantu keluarga agar pelaksanaan pendidikan lebih sistimatis, efektif, dan hasilnya tersertikasi, 3 Tidak semua kebutuhan pendidikan anak dapat dipenuhi oleh satuan pendidikan maupun keluarga, 4 Kerjasama keluarga dengan satuan pendidikan mutlak diperlukan, 5Satuan pendidikan wajib mendorong kemitraan dan pelibatan keluarga dalam memajukan pendidikan anak mereka. Berdasarkan berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya kolaborasi antara keluarga dan sekolah berpengaruh meningkatkan kemajuan dan kesusksesan ini, banyak sekolah yang merasa tidak percaya diri dengan potensi di sekitar sekolah yang dianggap “pinggiran”, padahal justru keadaan demikian dapat menjadi daya tarik bagi sekolah yang bersangkutan manakala mampu mensinergikan dengan trend modernitas global. Dengan kata lain, kita bisa mengglobalkan kelokalan SIMPULANIdealnya setiap program PAUD itu membuat perencanaan partisipasi orang tua agar mempunyai kesiapan yang aktif. Kesiapan aktif pada program PAUD harus bisa mengarahkan bermacam-macam bentuk partisipasi orang tua sesuai dengan kelompok sosial orang tua, pendidikan, mata pencaharian walaupun dalam bentuk atau kesempatan yang berbeda, sehingga perencanaan partisipasi orang tua lebih optimal. Hubungan silaturahmi dan kerjasama antara lembaga PAUD dengan orang tua dan masyarakat peserta didik bisa dicapai secara maksimal dan meningkatkan peranan orang tua anak usia dini dan masyarakat dalam pelaksanaan program-program lembaga PUSTAKABeaty, J. J. 1984. Skills for Preschool Teachers. Columbus Charles E. Merrill Publishing 1991. Parent as Partners in Education. New York Mac Millian Publishing 2004. Child, Family, School, and Community. Colonia Polanco Thomson J. 2007. Introduction to Early Childhood Education. Preschool Through Primary Ade Grades. New York M. 2001. Pendidikan Antisipatoris. Yogyakarta Kanisius SIMULACRA, Volume 2, Nomor 2, November 2019194Coleman, 2009. Dasar-Dasar Teori Sosial. Terjemahan Imam Muaqien, Derta Sri Widowatie, SiwiPurwandari. Bandung Nusa & Decker, 2003. Home, School, and Community Partnership. Oxford Scarecrow Press, Inc. Depdiknas. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta Depdiknas Direktorat SLP. Depdiknas. 2003. Indikator Kinerja Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Jakarta Proyek Publikasi dan Sosialisasi Pendidikan. Depdiknas. 2003. Undang-undang RI Nomor 20, Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dwiningrum, Siti Irene A. 2011. Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat Dalam Pendidikan Suatu Kajian Teoretis dan Empirik. Yogyakarta Pustaka 2009. School, Family and Community Partnership. California Crown G. 2011. Parental Involvement in Childhood Education Building Eective School-Family Partnership. New York Springer Sciencet Business Media. Hornby, G. dan Rayleen, L. 2011. Barriers to Parental Involvment in Education An Explanatory Model. College of education - Univercity of Canterbury, New 2007. The relation between parental involvement and urban secondary school student academic achievement A meta-analysis. Urban Education, 421, & Huberman, 1994. Qualitative Data Analysis. Beverly Hills Sage G. S. 1988. Education and Development of Infant, Toddlers, and Preschoolers. London Sco Foresman and G. S. 1988. Early Childhood Education Today. Columbus Merill Publishing E. 2007. Menjadi Kepala Sekolah Efektif. Bandung Remaja G. & Fuller, M. L. 2003. Home-School Relations Working Successfully With Parent and Families. 2nd ed. Boston Allyn and 2011. Metode penelitian Manajemen. Bandung 2011. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta PT 2000. Relation Between Families and Early Childhood Programs. Http// connecting/ 141-154Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan NasionalWortham, S. C. 2013. Early Childhood Curriculum Developmental Bases for Learning and Teaching. New Jersey Pearson Education Inc. ... Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu proses belajar anak Iftitah & Anawaty, 2020 dan juga hasil belajar Mahmudi et al., 2020. Anak-anak mempunyai waktu yang lebih banyak dengan orang tua di rumah Sabiq, 2020 Keberhasilan pendidikan ataupun pembelajaran anak-anak harus ditopang oleh tiga pilar, yaitu keluarga, sekolah dan lingkungan Jamilah, 2019. Pendidikan di lingkungan keluarga merupakan pendidikan yang pertama dan utama bagi anak Latifa, 2020;Sunarti et al., 2021. ...... Hal ini dilakukan agar pembelajaran dapat dicapai secara maksimal. Pendidikan di sekolah, masyarakat, dan di rumah harus saling mendukung agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal Jamilah, 2019. ...Siswoyo SiswoyoFatma YuniartiBerdasarkan temuan penelitian ini diketahui bahwa para orang tua perlu mendampingi anak-anak mereka dalam belajar Bahasa Inggris pasca covid-19. Anak-anak mengalami masalah ketika mereka mengerjakan tugas-tugas Bahasa Inggris. Temuan penelitian ini menyatakan bahwa sebagian orang tua menemui masalah dalam mendampingi anak-anak belajar Bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Terdapat 11 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendampingan terhdap anak-anak dilakukan oleh orang tua sendiri namun juga ada yang meminta bantuan orang lain dalam mendampingi anak-anak. Adapun faktor-faktor pendampingan tersebut dikarenakan adaya masalah pada diri anakdan juga pada diri orang tua. Masalah Pada diri anak dikarenakan anak tidak bisa fokus dan masalah pada orang tua terkait dengan waktu dan kemampuan yang berbeda. Pendampingan ini mempunyai implikasi terhadap pembelajaran bahasa Inggris dan hasil pembelajaran. Mereka lebih semangat dan nilai mereka juga bertambah baik.... Menurut Parsons 2016, dalam menjaga hubungan terhadap masyarakat haruslah dilaksanakan dengan harmonis, agar dapat membentuk persepsi positif pada masyarakat, hal ini dikarenakan pada era smart society, masyarakat merupakan stakeholder yang mempunyai peranan penting dalam memajukan lembaga PAUD Korain et al., 2020. Hubungan lembaga PAUD dengan masyarakat merupakan suatu hal yang harus dibangun secara professional untuk menciptakan reputasi positif lembaga PAUD Jamilah, 2019, dan sangat membutuhkan peran public relations lembaga PAUD Ferguson, 2018. ...... Dalam rangka menarik simpati dari masyarakat ini, public relations pada lembaga PAUD baik swasta maupun negeri, hendaknya tidak lagi berfokus melakukan promosi dan informasinya melalui brosur, koran, majalah, buletin saja, namun sudah harus merambah pada media sosial whatsapp, twitter, Instagram, youtube, line, facebook, website, dan lain sebagainya Fadhli & Fadlilah, 2017, serta melakukan kunjungan ke rumah-rumah masyarakat untuk lebih mengenalkan lembaga PAUD tersebut kepada masyarakat Jamilah, 2019. Media promosi dan informasi yang telah disebutkan tersebut, sangat diperlukan untuk diaplikasikan pada lembaga PAUD agar dapat membangun hubungan dengan target yang jelas, sehingga hubungan komunikasi dua arah two-way communications akan terjadi dengan baik dan sesuai harapan Kriyantono et al., 2017. ...Kajian artikel ini bertujuan untuk mendeksripsikan peran public relations dalam membangun citra lembaga PAUD pada era smart society. Penelitian ini merupakan hasil kajian literature review dengan data yang diperoleh dari kajian studi dokumen, baik dari buku referensi, jurnal ilmiah international, dan nasional. Kajian ini mengajukan temuan bahwa citra yang positif pada lembaga PAUD akan mudah terbangun, apabila bagian public relations mendapatkan dukungan dan dorongan secara penuh dan konsisten oleh seluruh elemen lembaga PAUD. Dalam menjalankan tugasnya untuk membangun citra lembaga PAUD yang positif kepada masyarakat, public relations haruslah merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasinya secara berkala, baik harian, minggu dan bulanan dari program dan kegiatan yang telah direncanakannya. Sedangkan peran yang harus dimiliki public relations dalam membangun citra positif lembaga PAUD kepada masyarakat, setidaknya terdiri dari beberapa peran, yaitu komunikator, penasihat ahli, perantara/konseling, dan fasilitator problem-solving.... This role will also be carried over to the child's acceptance of education at school. The family functions as an educational institution that initiates and is the main for a child, this primary education is also a very broad contribution to cooperating with children's growth towards a more complex life Jamilah, 2019. Family education, especially for a mother has now been raised from a lot of socialization parenting. ...Hikmat Zakky AlmubaroqIslamic religious education is education that is used as a human foundation to build a spiritual soul in the series. In addition, religious education will also improve human morals for the better. Islamic religious education is an education that must be intensified in the negative influence of the progress of globalization. Early childhood education is an important education, because early childhood is a generation that is still easy to accept all events and events. Thus the researchers carried out research on the management of religious character guidance at the early childhood level at RA Hidayatussyiban Lancar, Wadaslintang. The research was carried out with descriptive qualitative methods, and was supported through data collection techniques of observation, interviews, and documentation. And then the data is analyzed by data reduction, data display, and drawing conclusions. Through the techniques carried out, data were obtained related to the management of religious character guidance at RA Hidattusyiban which showed the results that the organization carried out in RA in the learning category was carried out with a cooperative pattern by RA teachers. Then as for the organization in the categories of programs consisting of 1 Al-Qur'an Reading and Writing Program, 2 Islamic Story Program, 3 Knowing Arabic Program, 4 Worship Practice Program. The implementation stages found were through habits consisting of 1 memorizing prayers and short letters, 2 praying and practicing ablution, 3 reading the Koran, and 4 Islamic stories. The evaluation stages carried out by the teacher are 1 socialization to parents of students, 2 evaluation of children's abilities after following the applied learning.... In Indonesia, one factor that causes the quality of education is uneven, namely stakeholder involvement that is still minimal [25]. Parents and the community are stakeholders ... Ila RosmilawatiNurmila HandayanIzzah Nur SalimaThe COVID-19 pandemic has affected many students around the world. The Indonesian government responded with school closures and the transition into distance learning. However, the Ministry of Communication and Information announced that there were 12,548 villages which did not have internet access and that electronic devices were unavailable for students from less well-off families. This study aimed to employ a non-empirical research methodology to highlight the importance of carrying out non-technological educational strategies by forming partnerships between schools and communities in vulnerable communities. The model of school-community partnership was carried out by forming small study groups in a neighborhood. Learning was assisted by teachers and volunteer tutors. This learning innovation was formed to provide equal opportunities for vulnerable students who were unable to perform online learning. Through such approaches we can rebuild education for those who were left behind as a result of the COVID-19 pandemic. Keywords community engagement, COVID-19, school partnership, vulnerable student... Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah sudah seharusnya menjalin kerja sama dengan berbagai pihak baik itu dari pihak masyarakat, perguruan tinggi, LSM serta pihak-pihak lainnya untuk menjalanka program PAUD Jamilah, 2019. Penyelenggaraan program PAUD yang berada di bawah naungan pemerintah akan dapat terjangkau oleh orang tua sehingga tidak akan ada lagi terkendala oleh ekonomi. ...Rahmi KurniaRizka Mutiah NurIsda AiniEducation is something that must exist in each individual. Without the provision of education, a nation cannot become a developed and competitive country in the era of globalization. If the quality of education is low then the quality of the tablespoons will also be low. Education has a very important meaning for the growth of children because children are potential leaders of the nation. In this study, researchers used a type of literature review research and used data obtained from literature studies. The data obtained were analyzed using descriptive analysis method. The results of this study indicate that there are several aspects that need attention in efforts to optimize PAUD in Indonesia, namely regarding the quality of facilities and infrastructure in PAUD institutions, equitable distribution of education in cities and villages, parental awareness about the importance of PAUD, quality of educators in PAUD institutions. Increasing the operational budget of education, equitable distribution of education in cities and villages, increasing parental awareness about the importance of PAUD through counseling and outreach, improving the quality of educators in PAUD institutions can be done through education and training for prospective educators is an effort and effort that can be done to optimize PAUD in Early Childhood, PAUD, Government, Educators, Parents... Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dan mempunyai tanggung jawab yang sangat besar terhadap semua anggota keluarga. Khususnya dalam bidang pendidikan, orang tua tidak Gambaran Penyediaan Fasilitas Belajar oleh Orang Tua di Taman Pendidikan… hanya menyerahkan anaknya ke sekolah saja namun orang tua juga harus melengkapi fasilitas belajar anaknya di rumah Jamilah, 2019. Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya Setiardi, 2017. ...Erika SusantiSyafruddin WahidThis research is motivated by the success of parents in the Taman Pendidikan Alquran TPA Jorong Bonjo, this is seen from the provision of learning facilities by parents at home. The purpose of this study is to describe the provision of learning facilities by parents at home in terms of study space, learning atmosphere, and learning aids. The type of this research is quantitative descriptive research. The population in this study is the child's parents. The sampling technique in this research is cluster random sampling from entire population. Data collection techniques used are questionnaires, while the data collection tool questionnaire. Technique of data analysis by using formula of percentage. From the results of the study showed that the availability of study space by parents in the learning process of children at home, realization of a comfortable learning by parents in the process of learning at home, the availability of learning aids by parents in the process of learning children at Study Room, Learning Atmosphere, Learning Aids Abdul Haris Fitri AntoThe family context in the strengthening religious moderation policy by the Ministry of Religion Kemenag has not become a top priority compared to the social and educational contexts. In the research context as well, the theme of the method of developing the religious moderation value in the family context remains limited. Therefore, this study aims to explore those themes for mapping the previous research and drawing opportunities for future research. This research is library research based on books and previous research. The results show that the methods for developing religious moderation values in the family remain limited in the mean of the number of studies, method diversity, and research type. The implications of these findings are discussed further. Keywords Value developing method; religious moderation; family. Konteks keluarga dalam policy penguatan moderasi beragama oleh Kementerian Agama Kemenag belum menjadi prioritas utama dibandingkan konteks sosial dan pendidikan. Demikian pula dalam konteks penelitian, tema metode pengembangan nilai moderasi beragama dalam konteks keluarga masih sangat terbatas. Maka dari itu penelitian ini bertujuan mengeksplorasi hasil-hasil penelitian dari tema tersebut untuk memetakan penelitian yang telah dilakukan dan peluang bagi peneliti-peneliti berikutnya. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka berdasarkan buku dan penelitian terdahulu. Hasil menunjukkan bahwa penelitian-penelitian bertema metode pengembangan nilai moderasi beragama dalam keluarga masih terbatas dalam hal jumlah penelitian, ragam metode, dan jenis penelitian yang digunakan. Implikai dari temuan ini didiskusikan lebih lanjut. Kata Kunci Metode pengembangan nilai; moderasi beragama; SunartiJamaris JamnaSufyarma MarsidinChildren's education cannot be separated from the large contribution of parents, who realize it or not will have a considerable influence on the success of an education. Therefore, in any situation, the role of parents cannot be ignored. One of the things we can observe is the need for parental cooperation in the implementation of existing education in an educational institution, we call it an early childhood education institution. Early childhood education cannot be separated from the cooperation of parents, the low cooperation of parents with early childhood education institutions will affect the success of the program itself. In this study the researchers tried to analyze the things that caused the low work of parents in early childhood education institutions, questionnaires were distributed to 21 who had children who were in early childhood education institutions and distributed randomly. With the results of good job research in terms of orientation to tasks that are considered quite good, 2 Orientation to the process which is considered quite good 3 Orientation to the assessment is quite low. The conclusions we can draw from this research are the need for an approach given to parents, so that parents want to be involved and cooperate in early childhood education AdamSuadi SuadiAbidin NurdinThis study describes the implementation of the parenting program and looks at the changes in the character of students after the implementation of the parenting program at SD Negeri 6 Bireuen. Researchers used a qualitative approach with data collection techniques including interviews, observation, and documentation. Research informants consisted of school officials, teachers, parents, school committees, and students. The results showed that the parenting program implemented at SD Negeri 6 Bireuen was running well by involving a socialization scheme, namely externalization, objectivation, and internalization of values and norms in the context of building student character. Changes in children's character are marked by changes in their daily attitudes that have become a habit. The values of character education that have been successfully implemented include religious values, discipline, responsibility, love for the environment, and honesty. ABSTRAKPenelitian ini menggambarkan pelaksanaan pola parenting dan melihat sejauh mana perubahan karakter siswa setelah penerapan program parenting di SD Negeri 6 Kabupaten Bireuen. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas pejabat sekolah, guru, orang tua, komite sekolah, dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program parenting yang dilaksanakan di SD Negeri 6 Bireuen berjalan baik dengan melibatkan skema sosialisasi yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi nilai dan norma dalam rangka pembentukan karakter siswa. Perubahan karakter pada anak ditandai dengan perubahan sikap sehari-hari yang mulai menjadi suatu kebiasaan. Adapun nilai pendidikan karakter yang berhasil diterapkan diantaranya nilai religius, disiplin, tanggung jawab, cinta lingkungan, dan kejujuran. Garry HornbyRayleen LafaeleThe issue of parental involvement PI in education is notable for the extensive rhetoric supporting it and considerable variation in the reality of its practice. It is proposed that the gap between rhetoric and reality in PI has come about because of the influence of factors at the parent and family, child, parent–teacher and societal levels which act as barriers to the development of effective PI. This article presents a model which has been developed in order to clarify and elaborate on the barriers in each of these four areas. First, parent and family factors are discussed, focusing on parents’ beliefs about PI, parents’ current life contexts, parents’ perceptions of invitations for involvement, and class, ethnicity and gender. Next, child factors are addressed, focusing on age, learning difficulties and disabilities, gifts and talents, and behavioural problems. Then, parent–teacher factors are discussed, focusing on differing agendas, attitudes and language used. Finally, societal factors are addressed, including historical and demographic issues, political issues, and economic issues. It is argued that the model will enable education professionals to achieve a greater understanding of the barriers to PI, which is a necessary precursor to the development of more effective PI in education. The model can also be used in pre‐service teacher education and professional development courses for education professionals, as well as for identifying areas of future research on Z. AidalkilaniThis research discusses the importance of encouraging children to read and to root reading habit them, and the essentiality of that for the formation of knowledge society. To do that the research tackle reading as a concept and process and its cultural, educational and social dimensions; the start of the relation with book and reading and its motivation as well as its sustainability; and the importance of children literature in all of that. The research sheds light on the effective parties in this aspect; the child, the school, the family and the community and the role of each individual party. Then it discusses the home-school-community partnership HSCP in general and the role of such partnership in promoting reading habit towards the targeted outcome a reader individual in the framework of lifelong learning. The research concludes by presenting examples of reading promoting activities through H. JeynesA meta-analysis is undertaken, including 52 studies, to determine the influence of parental involvement on the educational outcomes of urban secondary school children. Statistical analyses are done to determine the overall impact of parental involvement as well as specific components of parental involvement. Four different measures of educational outcomes are used. These measures include an overall measure of all components of academic achievement combined, grades, standardized tests, and other measures that generally included teacher rating scales and indices of academic attitudes and behaviors. The possible differing effects of parental involvement by race and socioeconomic status are also examined. The results indicate that the influence of parental involvement overall is significant for secondary school children. Parental involvement as a whole affects all the academic variables under study by about .5 to .55 of a standard deviation unit. The positive effects of parental involvement hold for both White and minority and co-authors review research in early childhood education. The authors provide a brief overview of how historical issues in early childhood education set the stage for contemporary research. Section one reviews research in learning and teaching across the domains of play, art, music, and literacy. In section two, issues of diversity and cultural pluralism and their impact on the field of early education are explored through a review of literature associated with giftedness, language learning, attachment, and temperament. The final section presents an integrative model of preschool learning and development and current thinking about best practices in compensatory education and early childcare for Preschool TeachersJ J BeatyBeaty, J. J. 1984. Skills for Preschool Teachers. Columbus Charles E. Merrill Publishing as Partners in EducationE H BergerBerger, 1991. Parent as Partners in Education. New York Mac Millian Publishing M BernBern, 2004. Child, Family, School, and Community. Colonia Polanco Thomson to Early Childhood Education. Preschool Through Primary Ade GradesJ BrewerBrewer, J. 2007. Introduction to Early Childhood Education. Preschool Through Primary Ade Grades. New York Pearson.

tiga orang membentuk kemitraan